Kasus COVID-19 Melonjak, Rupiah Ditutup Melemah Tajam

Rupiah - harianjogja.bisnis.comRupiah - harianjogja.bisnis.com

JAKARTA – Rupiah harus puas terbenam di teritori merah pada perdagangan Jumat (12/6) sore, setelah kasus infeksi -19 di Indonesia dan dunia masih menunjukkan peningkatan, bahkan setelah pembukaan lockdown di sejumlah . Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah tajam 113 poin atau 0,81% ke level Rp14.133 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.257 per dolar AS, terkoreksi 243 poin atau 1,73% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.014 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 1,35% dialami rupiah.

“Biang keladi melemahnya nilai tukar rupiah, yakni penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia. Apabila tidak segera membaik, masalah akan melebar ke sektor dan keuangan,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, disalin Bisnis. “Dengan bertambahnya pasien, maka prospek ke depan bakal tak menentu. Karena itu, wajar kalau pelaku pasar agak takut dan cemas.”

Berdasarkan data hingga Kamis (11/6) pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan 979 kasus baru COVID-19 yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Jika diakumulasikan, sekarang sudah ada 35.295 kasus positif di Indonesia, sejak kasus pertama diumumkan pada tanggal 2 Maret lalu. Provinsi Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Sulawesi mencatatkan penambahan kasus tertinggi.

Selain dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipicu jatuhnya ekuitas karena muncul keraguan mengenai pertumbuhan ekonomi yang cepat dari pandemi coronavirus, membuat berburu aset safe haven seperti dolar AS. Mata uang Paman Sam sempat menguat 0,086 poin atau 0,09% ke level 96,819 pada pukul 12.28 WIB, sebelum akhirnya jatuh 0,068 poin atau 0,07% ke posisi 96,665 pada pukul 14.55 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, infeksi virus yang terus meningkat di seluruh dunia menambah penilaian ekonomi Federal Reserve yang serius minggu ini, yang memicu aksi jual di ekuitas dan meningkatnya penghindaran aset risiko. Namun, banyak pelaku pasar melihat gerakan tiba-tiba itu sebagai posisi yang tidak menentu setelah penumpukan yang cepat pada aset berisiko, dengan harapan pembukaan kembali ekonomi lebih lanjut di banyak negara.

Loading...