Kasus COVID-19 di Asia Melonjak, Rupiah Ditutup Merah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (21/12) sore - equityworld-medan.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit ke area hijau pada perdagangan Senin (21/12) sore ketika pasar keuangan Asia diliputi sentimen negatif karena naiknya kasus virus di wilayah Benua Kuning dan Australia. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.130 per AS.

Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini berada di posisi Rp14.180 per , terdepresiasi 0,24% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.416 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,56% dialami .

Dikutip dari Kontan, baht menjadi mata uang paling lesu lantaran ada lonjakan kasus virus corona di Negeri Gajah Putih. Thailand melaporkan lebih dari 500 kasus Covid-19 pada Sabtu (19/12), sekaligus kenaikan terbesar di negara yang sebelumnya cukup mampu mengendalikan epidemi. Wabah itu muncul di Provinsi Samut Sakhon, barat daya Bangkok, yang akhirnya diperintahkan ditutup hingga 3 Januari 2021.

“Sentimen pasar tersengat karena lonjakan virus di Asia, termasuk Thailand dan Australia,” tutur senior foreign exchange strategist Malayan Banking Bhd di Singapura, Christopher Wong. “Lonjakan kasus baru ini membawa peringatan pada pengetatan sebelumnya yang menyebabkan tekanan aktivitas ekonomi. Selain itu, ada potensi likuiditas pasar yang menipis menjelang Natal dan tahun baru serta rebalancing portofolio.”

Dari pasar global, indeks dolar AS mampu bergerak naik terhadap rekan-rekan utama pada hari Senin, setelah mencari aset yang lebih aman karena banyak negara yang harus memperketat akibat lonjakan kasus infeksi COVID-19. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,424 poin atau 0,47% ke level 90,440 pada pukul 11.24 WIB.

“Kabar lockdown dan kebuntuan pembicaraan Brexit membuat pasar gugup,” papar ahli strategi mata uang senior National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril, dilansir dari Reuters. “Namun, secara keseluruhan, saya akan mengatakan bahwa tren positif aset risiko yang didorong oleh dan stimulus, ditambah fakta bahwa stimulus fiskal perlu didanai oleh banyak pinjaman di AS, masih menggambarkan gambaran pelemahan greenback untuk tahun 2021.”

Loading...