Kampanye Boikot China di India, Seberapa Efektif?

Aplikasi Tik Tok - carapandang.comAplikasi Tik Tok - carapandang.com

NEW DELHI – Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan meningkat antara dan China di sepanjang perbatasan mereka karena Negeri Sungai Gangga secara sepihak membangun jalan di Lembah Galwan di Ladakh, yang menghubungkan kawasan itu dengan landasan udara dekat Beijing. Imbas ketegangan tersebut, kini muncul seruan boikot produk-produk buatan China, termasuk aplikasi seperti TikTok, meskipun dinilai tidak efektif karena India memang masih butuh asing.

Dilansir Deutsche Welle (DW), komandan India dan China baru-baru ini bertemu untuk mencoba menyelesaikan perselisihan di sepanjang perbatasan Himalaya. New Delhi mengklaim bahwa bentrokan dimulai pada awal Mei, ketika kelompok-kelompok tentara China maju jauh ke dalam yang dikuasai India di tiga tempat di Ladakh, mendirikan tenda dan pos. Menurut pejabat India, tentara Negeri Panda mengabaikan peringatan lisan untuk pergi, memicu perkelahian dan pelemparan batu.

Dengan pasukan China dan India berselisih sekali lagi di Ladakh, Perdana Menteri India, Narendra Modi, muncul di televisi nasional dan meminta sesama untuk mengurangi ketergantungan India pada impor dan menjadi ‘aatmnirbhar’, istilah bahasa Hindi untuk mandiri. Kebuntuan pahit bersama dengan pesan Modi tampaknya telah memperbaharui serangkaian kampanye boikot China di seluruh negeri.

Sonam Wangchuk, seorang insinyur dan inovator dari Ladakh, yang sempat menarik perhatian pada tahun 2009 ketika ceritanya mengilhami karakter Phunsukh Wangdu di film ‘3 Idiots’, membintangi video ‘boikot China’ yang banyak beredar di platform media sosial. Dalam video itu, Wangchuk terlihat duduk di Ladakh dengan latar belakang lokasi bentrokan antara pasukan China dan India.

“Hapus semua aplikasi China dari ponsel Anda,” katanya. “Penghapusan instalasi aplikasi China oleh jutaan orang akan memastikan kerusakan pada ekonomi China dan mengirim pesan yang jelas ke Beijing. Selain itu, untuk orang India, buang telepon seluler buatan China serta semua produk lain yang bertuliskan Made in China.”

Sementara itu, guru yoga India, Swami Ramdev, mengunggah videonya sendiri di Twitter, mengilustrasikan cara mencopot pemasangan aplikasi seperti TikTok dan Shareit. Sebagai gantinya, ia memasang apa yang ia yakini sebagai aplikasi India, yaitu Flipkart dan Sharechat. Flipkart memiliki 77% saham pengendali yang dimiliki raksasa ritel AS, Walmart, sedangkan Sharechat telah menerima dana yang signifikan dari perusahaan China, termasuk Shunwei Capital, Xiaomi, dan Morningside Ventures.

Perusahaan OneTouch App Labs yang berbasis di Jaipur kemudian merilis Remove China Apps di Google Play Store. Aplikasi tersebut diklaim dapat mendeteksi aplikasi China dan menghapusnya dari perangkat. Remove China Apps hingga detik ini sudah diunduh di sekitar 5 juta ponsel sebelum Google menghapus aplikasi itu karena melanggar kebijakan perusahaan.

Mengenai seberapa efektif kampanye boikot China, jurnalis teknologi bernama Sahil Bhalla mengatakan kepada DW bahwa banyak perusahaan China, seperti Xiaomi dan TikTok, menganggap India sebagai pasar luar negeri terbesar dan terpenting mereka. Jadi, sulit bagi orang India untuk menyingkirkan mereka dalam semalam. “Setiap kampanye yang menyerukan penolakan aplikasi China hanya dapat efektif jika orang India memiliki alternatif yang cukup baik,” ujar Bhalla.

Sayangnya, menurut Bhalla, pendakian untuk aplikasi India di Google Play Store dan Apple App Store sangat lambat. Dia juga mengatakan, banyak orang India tidak mengetahui tentang rincian kepemilikan di belakang perusahaan teknologi dan tingkat saham China. Karena itu Bhalla agak skeptis apakah India dapat menolak semua hal tentang China, mengingat perusahaan-perusahaan Negeri Tirai Bambu telah menyuntikkan banyak dana ke ranah teknologi India dan mempekerjakan banyak karyawan lokal.

Menurut sebuah laporan oleh SensorTower, perusahaan intelijen pasar yang berbasis di San Francisco, TikTok menduduki peringkat aplikasi non-game paling banyak diunduh di dunia pada bulan Mei 2020. Itu diinstal lebih dari 111,9 juta kali, naik dua kali lipat dari tahun lalu, dengan India membuat 20% dari total unduhan sepanjang bulan kemarin. Sementara itu, perusahaan induk TikTok, ByteDance, yang juga baru-baru ini merekrut sejumlah besar karyawan di India, berencana untuk berinvestasi 1 miliar dolar AS di negara ini.

Para ekonom juga telah berulang kali memperingatkan kampanye boikot karena mereka tidak secara akurat menggambarkan posisi India dan China dalam tatanan ekonomi dunia. Biswajit Dhar, seorang profesor di Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi, mengatakan, India adalah negara yang terbatas sumber dayanya dan sedang mencari investasi asing. “Jadi, jika Anda melarang atau memboikot produk asing, apa yang akan Anda lakukan terhadap perusahaan asing ini?” tutur Dhar.

Loading...