Kamis Sore, Rupiah Merah Jelang Pertemuan AS-China

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

JAKARTA – Ketika indeks AS memerah, gagal merangsek ke teritori hijau pada Kamis (9/5) sore, seiring dengan kurs Asia karena aset berisiko cenderung dihindari jelang pertemuan dagang AS dan China. Menurut paparan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah tajam 65 poin atau 0,45% ke level Rp14.360 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.338 per dolar AS, melorot 33 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.305 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia kompak terdepresiasi versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,55% dialami won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya relatif bergerak lebih rendah pada hari Kamis, bahkan melayang di dekat posisi terendah enam minggu versus yen Jepang, di tengah kekhawatiran mengenai konflik perdagangan antara AS dan China. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,064 poin atau 0,07% ke level 97,559 pada pukul 13.10 WIB.

Diberitakan Reuters, menanti dengan gugup dimulainya pembicaraan perdagangan dua hari di Washington untuk melihat apakah negosiator Negeri Panda dapat meyakinkan Gedung Putih untuk membatalkan rencana kenaikan impor pada akhir pekan (10/5) ini. Dolar AS pun berada di posisi 109,905 terhadap yen Jepang, setelah sempat mencapai level 109,70 atau terendah sejak 25 Maret.

Harapan bahwa AS dan China akan mencapai kesepakatan segera untuk mengakhiri perang dagang mereka telah berbalik pada minggu ini, membuat investor menghindari aset berisiko. Washington menuduh Beijing mundur dari komitmen yang dibuat selama negosiasi perdagangan dan Presiden AS, Donald Trump, telah mengancam untuk menaikkan tarif barang impor asal China dan memberlakukan pungutan baru segera jika tidak ada kesepakatan.

“Yen mendapatkan keuntungan yang ketika pasar dihantui kekhawatiran mengenai negosiasi dagang,” kata ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shin Kadota. “Sementara kemungkinan perundingan perdagangan AS-China mendatang belum menjadi skenario utama, pasar mata uang secara bertahap mulai mempertimbangkan kemungkinan seperti itu.”

Loading...