Kamis Sore, Rupiah Melemah Saat Isu Brexit KO Dolar

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

Pelemahan yang dialami seiring meredanya kekhawatiran ‘hard Brexit’, yang membuat pound sterling perkasa, gagal dimanfaatkan untuk bergerak ke area positif pada perdagangan Kamis (30/8) sore. Menurut pantauan Index pukul 15.55 WIB, Garuda 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.680 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir turun 19 poin atau 0,13% di posisi Rp14.645 per dolar AS pada tutup dagang Rabu (29/9) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 13 poin atau 0,09% ke level Rp14.658 per dolar AS. Sepanjang transaksi, spot praktis tidak memiliki otot untuk naik ke area hijau.

Sementara itu, siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.655 per dolar AS, terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.643 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,18% menghampiri rupee India.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Kamis, seiring dengan kinerja pound sterling yang membaik didukung meredanya kekhawatiran seputar ‘hard Brexit’. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,03 poin atau 0,03% menuju level 94,570 pada pukul 11.01 WIB, sedangkan pound sterling sempat 0,08% menuju posisi 1,3039 per dolar AS, level tertinggi selama empat pekan.

Diberitakan Reuters, pound sterling mengalami lonjakan sebesar 1,2% semalam, atau kenaikan harian terbesar sejak 24 Januari 2018, karena kekhawatiran ‘hard Brexit’ berkurang setelah kepala negosiator Uni Eropa, Michel Barnier, mengisyaratkan sikap melunak terhadap London dalam pembicaraan Brexit yang tengah berlangsung. Barnier mengatakan bahwa Uni Eropa siap menawarkan kemitraan kepada Inggris meskipun tidak ada ‘pasar tunggal ala carte’.

“Dolar AS telah melemah selama dua minggu terakhir,” tutur kepala riset pasar di JPMorgan Chase Bank di Tokyo, Tohru Sasaki. “Pasalnya, fokus investor telah bergeser ke negosiasi NAFTA (Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara) dan Brexit, sehingga greenback tidak mendapatkan banyak dorongan meski mata uang berkembang melemah.”

Loading...