Kamis Sore, Rupiah dan Dolar Kompak Menguat

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Kamis (23/5) sore ketika indeks dolar AS berbalik menguat setelah sebelumnya sempat melempem menyusul risalah . Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.50 WIB, Garuda menguat 45 poin atau 0,31% ke level Rp14.480 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS masih bergerak di teritori hijau pada hari Kamis, menyusul tensi perdagangan AS-China yang masih memanas, sedangkan sedang mencari arah setelah risalah menunjukkan bahwa mereka tidak terburu-buru dalam pemotongan suku bunga. Mata uang Paman Sam menguat 0,129 poin atau 0,13% ke level 98,170 pada pukul 15.58 WIB.

“Efek jangka pendek dari konflik perdagangan AS-China mendorong indeks dolar AS lebih tinggi secara umum dan itu tidak membantu harga emas,” tutur manajer umum global di ABC Bullion, Nicholas Frappell. “Juga, selama pertengahan Mei, banyak pembelian baru masuk ke posisi buy di level yang lebih tinggi, dan sejak itu minat terbuka terhadap CME telah menurun, yang menyiratkan bahwa beberapa dari aksi beli itu keluar dan berada dalam posisi defensif.”

Sementara itu, risalah dari pertemuan terakhir Federal Reserve AS menunjukkan bahwa para pejabat menyetujui pendekatan mereka saat ini untuk menetapkan kebijakan moneter bisa tetap ‘untuk beberapa waktu’. Pertemuan terakhir The Fed berlangsung sebelum pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, menaikkan tarif barang-barang China sehingga potensi risiko ekonomi dari perang dagang bukanlah topik utama diskusi.

“Orang-orang mencari segala jenis pesimisme yang akan menyebabkan (Federal Reserve) menurunkan suku bunga. Tetapi, pada saat ini, mereka tidak ingin melakukan itu,” papar pedagang senior valas dan ahli strategi Tempus Inc., Juan Perez. “Pesan yang dikomunikasikan adalah bahwa FOMC tidak mampu menaikkan atau menurunkan suku bunga.”

Di sisi lain, menurut risalah itu, terlepas dari banyaknya dukungan pendekatan bersabar untuk kenaikan suku bunga, ‘beberapa’ anggota memperingatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan untuk suku bunga yang lebih tinggi mengingat rendahnya tingkat pengangguran. Namun, menurut Presiden The Fed Dallas, Robert Kaplan, langkah menaikkan atau menurunkan suku bunga membutuhkan alasan yang sesuai.

Loading...