Kamis Sore, Rupiah Berbalik Ditutup Melemah 0,6%

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

JAKARTA – harus kembali terpuruk di area merah pada Kamis (12/11) sore meski awalnya mampu dibuka menguat, ketika investor cenderung mengurangi ekspektasi terhadap virus corona. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 85 poin atau 0,6% ke level Rp14.170 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.187 per dolar AS, terdepresiasi 111 poin atau 0,78% dari sebelumnya di level Rp14.076 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak variatif terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% dialami rupiah dan kenaikan tertinggi sebesar 0,4% menghampiri baht Thailand.

Dari pasar global, dolar AS relatif bergerak stabil pada hari Kamis karena investor mengurangi ekspektasi tentang vaksin COVID-19, sedangkan dolar Kiwi melayang di dekat puncak 20 bulan karena peluang suku bunga negatif di Selandia Baru semakin luas. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,009 poin atau 0,01% ke level 93,034 pada pukul 12.17 WIB.

Seperti dikutip dari Reuters, indeks dolar AS stabil sepanjang sesi Asia dan telah bertambah sekitar 0,8% pada minggu ini, terutama berkat besar-besaran mata uang tempat berlindung, seperti franc Swiss dan yen Jepang, dan melemahnya euro karena lonjakan kasus COVID-19 di Eropa. Pound sterling juga terpuruk karena pembicaraan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa tampaknya akan berlarut-larut, meningkatkan prospek bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum transisi Brexit berakhir pada 31 Desember.

“Saya pikir kita memiliki pasar spekulatif yang semakin nyaman dengan pelemahan dolar AS,” kata kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attril. “Kemudian, pasar mendapat berita vaksin dan lonjakan besar dalam imbal hasil obligasi AS, yang menurut saya hanya bertindak sebagai sedikit kontrol terhadap penurunan dolar AS yang tidak terkendali.”

Loading...