Kamis Sore, Rupiah Berbalik Drop Saat Kurs Asia Positif

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Rupiah tidak mampu mempertahankan posisinya di zona hijau pada Kamis (4/7) sore ketika mayoritas bergerak naik menyusul pelemahan yang masih dialami oleh AS. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.135 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan berada di posisi Rp14.106 per dolar AS, menguat tajam 54 poin atau 0,38% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.160 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,18% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar , indeks dolar AS cenderung bergerak di area merah pada hari Kamis, termasuk terhadap yen Jepang, karena turunnya imbal hasil Treasury AS mendorong ekspektasi bahwa akan memangkas mereka di bulan Juli. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,021 poin atau 0,02% ke level 96,747 pada pukul 13.00 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, obligasi pemerintah AS berada di tengah-tengah reli global, yang telah mendorong yield Treasury AS menuju level terendah dalam lebih dari 2,5 tahun dan mengirim suku bunga Eropa ke rekor terendah karena meningkatnya taruhan bank-bank sentral akan melonggarkan kebijakan moneter mereka. Harapan resolusi cepat untuk perang dagang yang memudar juga memberikan efek negatif bagi dolar AS.

Fokus investor sekarang bergeser ke data nonfarm payroll AS yang jatuh akan diumumkan pada hari Jumat (5/7) waktu setempat dan diprediksi akan meningkat sebesar 160.000 pada bulan Juni, dibandingkan dengan 75.000 pada bulan Mei. Namun, data NFP yang positif mungkin tidak akan menyokong greenback karena ekspektasi untuk penurunan suku bunga yang kuat, mengingat inflasi yang rendah dan dampak dari tarif yang telah diberlakukan AS dan China.

“Semua orang dari Reserve Bank of Australia hingga The Fed berbicara tentang inflasi yang mengecewakan, terutama dari sisi negatifnya,” kata ahli strategi makro di Standard Chartered Bank di Singapura, Mayank Mishra. “The Fed bisa dibilang memiliki lebih banyak ruang untuk pelonggaran daripada yang lain. Itu, secara teori, bisa memicu dolar AS yang lebih lemah.”

Loading...