Kalbe Farma Investasi untuk Penelitian Sel Induk (Stem Cell)

From : //health.liputan6.com/

Jakarta – Perusahaan terbesar di , Kalbe Farma ingin berubah dari pabrik pembuat generik menjadi pengembang farmasi berteknologi tinggi. Proyek kanker yang dikembangkan selama 2 tahun mulai menuai hasil dan Kalbe meningkatkan penelitian dan pengembangan produk terapi sel induk (stem cell).

Tahun 2006, sang pendiri, Boenjamin Setiawan mengarahkan perusahaan dengan awal dalam penelitian sel induk. Penelitian sel induk yang diinvestasikan oleh Kalbe memfokuskan pada terapi untuk penyakit degeneratif. Boenjamin Setiawan mendirikan Stem Cell and Cancer Institute (SCI) pada 2006 dan memiliki visi menjadikan Kalbe sebagai produsen terkemuka produk sel induk di .

“Kami bisa memilih bahan baku sebagai fokus R&D kami, tapi kami sudah cukup tertinggal di area ini, terutama oleh India dan juga China,” ujar Irawati Setiady pada Januari lalu. “Area yang dikembangkan untuk penelitian saat ini adalah sel induk. Dan kami pikir kami tidak ingin ketinggalan lagi.”

Sel punca adalah induk dari sel dengan potensi untuk berkembang menjadi berbagai sel dalam tubuh. Mereka juga memiliki kemampuan untuk memperbarui diri, sehingga berfungsi sebagai perbaikan. Dalam terapi sel punca, idenya adalah dengan menanamkan sel-sel di organ yang rusak sehingga dapat menyembuhkan dirinya sendiri.

Direktur SCI, Sandy Qlintang menjelaskan jika lembaga telah berhasil memproduksi transplantasi autologus di mana sel induk dipanen dari pasien sendiri, biasanya dari sumsum tulang atau jaringan lemak. SCI telah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit universitas di Indonesia untuk memberi ini pada cedera tulang belakang, osteoarthritis, dan penyakit lain.

“Kami sedang bersiap-siap untuk melakukan studi praklinis pada hewan tahun depan. Dan kemudian kami akan mulai uji klinis pada manusia pada tahun 2018,” ujar Sandy. “Kami berencana untuk memasarkan produk ini di Indonesia, dan mungkin juga beberapa negara Asia Tenggara lainnya.”

Untuk itu, produk harus lulus uji klinis 3 fase pada manusia sekitar 6-7 tahun dengan setidaknya Rp 40 miliar. SCI harus melaporkan hasilnya pada BPOM sebelum dapat memasarkan produk.

Loading...