Kalahkan Samsung, Tiga Merek Smartphone China Kuasai Pasar ASEAN

Smartphone di ASEAN - www.viva.co.idSmartphone di ASEAN - www.viva.co.id

BANGKOK/JAKARTA – atau cerdas asal Negeri Tirai Bambu perlahan tetapi pasti mulai mengambil alih pasar . Gabungan tiga buatan China, yaitu Oppo, Vivo, dan Huawei, di pasar Asia Tenggara dilaporkan telah melampaui ponsel cerdas milik Samsung Electronic asal Korea Selatan untuk pertama kalinya pada tahun lalu.

Seperti dilansir Nikkei, ketika pasar domestik relatif sepi dan tensi dengan AS tidak kunjung reda, sejumlah produsen China memilih melakukan serangkaian ‘serangan’ ke Asia. Di India, pasar ponsel pintar terbesar kedua di , Xiaomi mengubah strategi sehingga bisa melampaui penjualan terbanyak dalam enam bulan yang dilakukan oleh Samsung.

Sementara, di Indonesia, Vivo pada 29 Maret kemarin menandai peluncuran ponsel V9-nya dengan gala premium. Kompleks Candi Borobudur ‘diubah’ dari situs Warisan Dunia menjadi tempat mewah untuk pesta peluncuran, menampilkan pertunjukan penyanyi Agnez Mo, dan disiarkan secara langsung oleh dua belas stasiun televisi.

Acara ini juga menjadi semacam lap kemenangan, tidak hanya untuk Vivo, tetapi juga rekan senegara, seperti Oppo dan Huawei Technologies. Trio ini pada 2017 kemarin menjual 29,8 juta ponsel di lima pasar utama di Asia Tenggara, menurut peneliti IDC AS. Itu lebih banyak dari 29,3 juta unit produk Samsung yang terjual dan 20 kali penjualan mereka di lima negara pada tahun 2013 silam.

Vivo dan Oppo secara telah mengembangkan pasar Asia Tenggara dengan sangat kuat. Mei tahun lalu, Vivo mencapai kesepakatan untuk menjadi sponsor smartphone resmi untuk Piala Dunia edisi 2018 dan 2022 mendatang. Mempertimbangkan popularitas sepakbola di Asia Tenggara, kesepakatan sponsorship diharapkan untuk memperkuat merek ini.

Sementara itu, iklan Oppo secara virtual memonopoli jalan masuk di sekitar distrik bisnis utama Bangkok, serta stasiun kereta bawah tanah Sukhumvit. Sementara, di pusat perbelanjaan ITC Kuningan, Jakarta, bagian yang didedikasikan untuk ponsel ini, telah diselimuti dengan tanda-tanda hijau khas Oppo, bersama dengan warna kebesaran Vivo, biru.

Satu toko di mal bisa menampilkan sekitar 50 handset, semuanya dibuat oleh Vivo atau Oppo. Menurut toko, merek-merek ini menyediakan materi promosi secara gratis, dan mereka membayar komisi untuk iklan. Selain itu, produsen China juga menawarkan insentif penjualan yang murah hati, termasuk beberapa AS per perangkat untuk staf penjualan per orang.” Perangkat China menghasilkan margin keuntungan yang lebih besar untuk toko ritel daripada ponsel Samsung,” kata analis pasar senior untuk IDC, Jensen Ooi.

Pabrikan Negeri Panda juga membuka toko di negara-negara yang kurang berkembang. Satu toko di Yangon, Myanmar, melaporkan bahwa Vivo dan Oppo menyediakan logo-logo eksterior dan materi tampilan promosi jika toko menyumbang penjualan sekitar 15 perangkat senilai ambang batas tertentu. Seorang perwakilan penjualan wanita juga dikirim ke toko sebagai bagian dari paket.

Harga yang lebih murah dibandingkan merek lain juga menjadi faktor kenapa ponsel China banyak diburu. Di Bangkok, Vivo V9 ditawarkan dengan harga sekitar 11.000 baht, jauh di bawah harga iPhone 6 buatan Apple yang dilepas sekitar 18.500 baht. Meski punya harga lebih murah, Vivo V9 telah didukung layar 6,4 inci, fitur pengenalan wajah, dan kamera ganda.

Namun, perusahaan Cina dan strategi berbasis volumenya di Asia Tenggara diprediksi akan segera mencapai batas. Wilayah ini menjual 100 juta unit ponsel pada tahun 2017, relatif datar dari tahun sebelumnya dan sejalan dengan tren global. IDC memprediksi hanya ada kenaikan kecil menjadi sekitar 105 juta unit pada tahun ini.

Loading...