Juni 2021 Terjadi Deflasi, Rupiah Berakhir Melemah Tipis

Rupiah - BBC.comRupiah - BBC.com

JAKARTA – Rupiah harus rela terbenam di area merah pada perdagangan Kamis (1/7) sore setelah sepanjang bulan Juni 2021 kemarin, dilaporkan mengalami deflasi sekaligus yang pertama pada tahun ini. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata Garuda berakhir tipis 2,5 poin atau 0,02% ke level Rp14.502,5 per dolar AS.

Sementara itu, sejumlah mata di Benua Asia juga tidak berdaya menghadapi greenback. Peso Filipina menjadi yang terpuruk setelah anjlok 0,4%, disusul ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,17%, yuan China yang minus 0,13%, dan dolar Singapura yang turun tipis 0,05%. Sebaliknya, baht Thailand dan yen Jepang mampu menguat, masing-masing 0,15% dan 0,05%.

Siang tadi, BPS (Badan Pusat Statistik) melaporkan bahwa pada bulan Juni 2021, mengalami deflasi sebesar 0,16%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,46. Dari 90 kota, deflasi tercatat terjadi di 56 kota, sedangkan sisanya mengalami inflasi. Dengan demikian, inflasi tahunan dan kalender pada Juni 2021 masing-masing sebesar 1,33% dan 0,74%.

Dilansir dari akun BPS, deflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 0,89%, sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Singkawang, yang dimotori kenaikan harga babi. Menurut Kepala BPS, Margo Yuwono, deflasi pada Juni ini merupakan deflasi pertama sejak Januari 2021. “Dari 11 kelompok pengeluaran, terdapat 4 kelompok yang mengalami deflasi,” katanya.

Pelaku pasar sendiri sudah memperkirakan bahwa akan terjadi deflasi pada penutup semester pertama 2021. Konsensus yang dihimpun CNBC memprediksi terjadi deflasi sebesar 0,085% dibandingkan bulan sebelumnya. Deflasi sendiri menunjukkan tidak terjadi tekanan harga. Dunia usaha menurunkan harga karena pasokan yang melimpah atau penurunan permintaan.

Dari pasar global, indeks dolar AS harus terjun ke zona merah pada hari Kamis setelah sempat menembus level tertinggi 2,5 bulan sehari sebelumnya setelah ada kekhawatiran yang meluas atas penyebaran virus Covid-19 varian delta. Mata uang Paman Sam terpantau tipis 0,33 poin atau 0,04% ke level 92,399 pada pukul 11.14 WIB.

Walau sempat limbung, dilansir dari Reuters, greenback tetap menjadi cadangan mata uang terbesar yang dipegang bank sentral global. Menurut data IMF, pangsa dolar AS dari cadangan mata tipis menjadi 59,5% pada kuartal pertama tahun ini. “Mengingat kenaikan dolar AS yang lebih luas pada kuartal pertama, kenaikan kepemilikan uang itu menjadi lebih jelas,” tutur kepala strategi FX di Scotiabank, Shaun Osborne.

Loading...