Jumat Sore, Rupiah Stagnan Saat Dolar Relatif Labil

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

JAKARTA –Pada penutupan perdagangan Jumat (29/3) sore, rupiah tidak mampu memanfaatkan gerak indeks AS yang cenderung labil menyusul angka PDB AS yang lebih rendah dari perkiraan awal. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda tetap berada di level Rp14.243 per dolar AS, seperti kemarin.

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.255 per dolar AS, menguat 11 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.255 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang di Asia kompak naik melawan , dengan penguatan tertinggi sebesar 0,27% menghampiri rupee India.

Dari global, tampaknya dolar AS masih ragu untuk kenaikan terkuat dalam lima bulan, ketika investor merespons positif kenaikan imbal hasil Treasury AS serta beberapa saingannya terpukul oleh sinyal dovish dari bank sentral mereka sendiri. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,026 poin atau 0,03% ke level 97,176 pada pukul 12.21 WIB, setelah sebelumnya berakhir positif.

Seperti diberitakan Reuters, pada Kamis (28/3) malam, dolar AS relatif bergerak menguat meski data Negeri Paman Sam melambat lebih dari yang diperkirakan pada kuartal keempat tahun lalu. Menurut Departemen Perdagangan setempat, domestik bruto (PDB) AS meningkat 2,2% pada kuartal IV 2018, lebih rendah dari prediksi awal di angka 2,6%.

“Euro dan pound sterling telah jatuh minggu ini karena imbal hasil yang memengaruhi mata uang telah melemah,” kata ahli strategi mata uang senior Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Meskipun imbal hasil AS turun, investor tampaknya telah menjual mata uang dari pasar lain, yang merupakan kekhawatiran terbesar mereka tentang keadaan ekonomi. Itu sepertinya telah mengangkat gerak dolar AS.”

Euro memang diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada level 1,1228 terhadap greenback, tetapi tetap turun sekitar 1,2% sepanjang bulan ini, setelah penurunan obligasi kekhawatiran perlambatan ekonomi yang berkepanjangan. Mata uang tunggal Eropa juga terbebani oleh spekulasi Bank Sentral Eropa yang akan memperkenalkan deposito berjenjang, memberikan tanda bahwa pembuat kebijakan berencana untuk mempertahankan rendah lebih lama.

Loading...