Jumat Sore, Rupiah Positif Jelang Pertemuan AS-China

rupiah - kumparan.comrupiah - kumparan.com

JAKARTA – Rupiah mampu menjaga posisi di teritori hijau pada perdagangan Jumat (28/6) sore ketika fokus tertuju pada pertemuan antara pemimpin AS dan China di sela-sela gelaran KTT G20 di Osaka. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menguat 14 poin atau 0,11% ke level Rp14.126 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.141 per dolar AS, menguat 39 poin atau 0,27% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.180 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang juga mayoritas mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,16% menghampiri rupee India.

Dari , indeks dolar AS relatif bergerak positif pada hari Jumat, ketika investor menantikan pertemuan penting antara para pemimpin AS dan China di sela-sela pertemuan G20 selama akhir pekan ini guna mencari tanda-tanda kemajuan untuk mengakhiri perang dagang yang memanas. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,033 poin atau 0,03% ke level 96,227 pada pukul 13.00 WIB.

Dilansir CNBC, tensi dagang antara AS dan China dilaporkan sedikit menurun setelah South China Morning Post mengatakan bahwa Washington dan Beijing membuat perjanjian yang akan membantu mencegah putaran tarif berikutnya pada tambahan China senilai 300 miliar dolar AS. Namun, pasar tampaknya terus berpegang pada harapan kemajuan dalam pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, di G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang.

“Pergerakan pasar menunjukkan berkurangnya kekhawatiran terhadap pertemuan AS-China, tetapi hasil pertemuan harus sesuai dengan harapan agar dolar AS dan aset berisiko menguat,” papar analis valuta asing senior di IG Securities, Junichi Ishikawa, seperti dikutip Reuters. “Jika hasil pertemuan di bawah ekspektasi, hal itu akan menimbulkan reaksi besar ke arah yang berlawanan.”

AS dan China telah memberlakukan tarif hingga 25% untuk ratusan miliar dolar AS atas barang masing-masing yang telah berlangsung hampir setahun. Perang dagang yang berlarut-larut telah memperlambat pertumbuhan global dan mendorong banyak bank sentral ke arah pemotongan suku bunga untuk mendukung mereka.

Loading...