Jumat Sore, Rupiah Negatif Jelang Laporan PDB AS

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

JAKARTA – Setelah bergulir dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah ternyata gagal merangsek ke teritori hijau pada Jumat (26/4) sore, menjelang domestik bruto (PDB) AS kuartal pertama. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, spot melemah 13 poin atau 0,09% ke level Rp14.199 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.188 per dolar AS. Angka ini mengalami depresiasi sebesar 34 poin atau 0,24% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.154 per dolar AS. jual ditetapkan sebesar Rp14.259 per dolar AS, sedangkan beli berada di posisi Rp14.117 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS bertahan stabil mendekati posisi tertinggi dua tahun terhadap rekan-rekan utama pada hari Jumat, didukung oleh data yang menunjukkan pesanan barang AS yang kuat, menjelang laporan PDB AS kuartal pertama 2019. Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,053 poin atau 0,05% ke level 98,150 pada pukul 10.55 WIB, setelah kemarin (25/4) sempat naik ke posisi 98,322 atau level tertinggi sejak Mei 2017.

Diberitakan Reuters, data Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa pesanan baru untuk barang modal buatan AS sepanjang bulan Maret 2019 mengalami peningkatan sebesar 2,7%, menjadi 258,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dari delapan bulan sebelumnya. Laporan positif ini mengikuti data penjualan ritel dan ekspor yang juga menunjukkan kenaikan sekaligus mengurangi kekhawatiran perlambatan pertumbuhan terbesar di dunia.

Saat ini, fokus global sedang tertuju pada laporan PDB AS kuartal pertama 2019 yang akan diumumkan pada hari ini pukul 12.30 GMT. Menurut survei yang dilakukan oleh Reuters, para ekonom memprediksi bahwa PDB terbaru ini akan meningkat 2,0% secara year-on-year, sedikit lebih lambat dari 2,2% yang tercatat di kuartal sebelumnya.

“Kami berharap data PDB AS dapat menggarisbawahi pemulihan ekonomi yang stabil,” tutur ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shin Kadota. “Perbedaan fundamental ekonomi sekarang menjadi adalah pendorong utama untuk pergerakan mata uang karena The Fed, dan baru-baru ini Bank Sentral Swedia dan Jepang, telah mengadopsi sikap dovish.”

Loading...