Jumat Sore, Rupiah Hijau Jelang Deal AS-China

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang cenderung sempit, ternyata mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan Jumat (10/5) sore, ketika global menantikan hasil perundingan antara AS dan China. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, spot menguat 33 poin atau 0,23% ke level Rp14.327 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.347 per dolar AS, terdepresiasi 9 poin atau 0,06% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.338 per dolar AS. Bank sentral mematok kurs jual berada di level Rp14.419 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di posisi Rp14.275 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS relatif bergerak flat pada akhir pekan, sedangkan yen dan franc Swiss sedikit menurun, ketika penghindaran terhadap aset berisiko sedikit mereda di tengah pasang surut sentimen pasar terhadap negosiasi perdagangan antara AS dan China. Paman Sam terpantau menguat tipis 0,020 poin atau 0,02% ke level 97,393 pada pukul 12.13 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, para pejabat AS dan China melakukan pembicaraan dua hari mulai hari Kamis (9/5) waktu setempat dalam upaya untuk mencegah eskalasi perang dagang yang mengancam ekonomi global. AS sendiri sebelumnya siap menaikkan tarif asal China dan fokus adalah bagaimana negosiasi kedua akan berjalan.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, pada hari Rabu (8/5) sempat menulis tweet bahwa ia akan dengan senang hati mempertahankan tarif impor terhadap produk China, mendorong Beijing untuk melakukan pembalasan. Namun, negosiator China, Liu He, menuju ke Washington untuk mengadakan pembicaraan, dan beberapa investor menafsirkan ancaman tarif Trump sebagai taktik negosiasi.

“Dolar AS jelas berada pada tren turun terhadap yen Jepang, baik dari segi teknis maupun aliran (permintaan),” papar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Namun, ada juga sejumlah permintaan dolar AS yang mendasari dari investor institusi Jepang. Mempertimbangkan faktor-faktor seperti itu, dolar AS mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk jatuh.”

Loading...