Jumat Sore, Rupiah Drop Usai Neraca Perdagangan Defisit

Rupiah - jarrak.idRupiah - jarrak.id

JAKARTA – harus berakhir pekan di zona merah pada Jumat (15/2) sore, menyusul terbaru yang menunjukkan bahwa neraca perdagangan dalam negeri kembali mengalami defisit. Menurut Bloomberg Index, mata uang Garuda ditutup melemah 64 poin atau 0,45% ke level Rp14.154 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.116 per dolar AS, terdepresiasi 23 poin atau 0,16% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.093 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,25% dialami won Korea Selatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis nilai neraca perdagangan Indonesia pada bulan Januari 2019 yang dilaporkan mengalami defisit sebesar 1,16 miliar dolar AS. Posisi ini lebih tinggi dari defisit bulan sebelumnya yang sebesar 1,03 miliar dolar AS. Penyebab defisit terbesar adalah karena ada defisit migas sebesar 454,8 miliar dolar AS dan defisit nonmigas sebesar 704,7 miliar dolar AS.

Dari , indeks dolar AS melemah terhadap yen pada hari Jumat, namun masih lebih tinggi dari sekeranjang mata uang lainnya, setelah data penjualan ritel AS yang lemah memperkuat keyakinan bahwa tidak akan menaikkan tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,091 poin atau 0,09% ke level 97,069 pada pukul 12.55 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Departemen Perdagangan AS baru saja melaporkan bahwa penjualan ritel pada bulan Desember 2018 mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari sembilan tahun. Penjualan ritel di Negeri Paman Sam turun 1,2% pada akhir tahun kemarin, atau penurunan terbesar sejak September 2009, sekaligus lebih rendah dari survey Reuters yang memproyeksikan naik 0,2%.

“Data penjualan ritel yang buruk telah memperkuat pandangan bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga stabil sepanjang tahun ini,” jelas chief operating officer Rakuten Securities Australia, Nick Twidale. “Dolar AS versus yen merupakan indikasi sentimen penolakan risiko saat ini. Saya mengharapkan yen akan bergerak menguat bersama dengan franc Swiss.”

Loading...