Jumat Sore, Kurs Rupiah Makin Anjlok Jelang Rilis NFP AS

Rupiah - sumutinvest.comRupiah - sumutinvest.com

JAKARTA – semakin terbenam di zona merah pada Jumat (8/3) sore, meski greenback juga bergerak melandai jelang pengumuman data nonfarm payroll AS terbaru. Menurut catatan Index pada pukul 15.53 WIB, Garuda terjun bebas 172 poin atau 1,22% ke level Rp14.315 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.223 per dolar AS, anjlok 94 poin atau 0,66% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.129 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,57% menghampiri rupiah, disusul won Korea Selatan yang turun 0,47%.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya juga bergerak melandai pada hari Jumat, bahkan turun ke level terendah delapan hari terhadap yen Jepang, karena ekuitas di kawasan Asia lesu menyusul penghindaran aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,195 poin atau 0,20% ke posisi 97,472 pada pukul 15.10 WIB, meski sebelumnya berakhir menguat.

Seperti diberitakan Reuters, saham Asia secara keseluruhan melemah pada akhir pekan, setelah data China pada bulan Februari kemarin dilaporkan tidak menggembirakan. Hal tersebut menambah kekhawatiran di pasar yang sebelumnya telah dibebani oleh prospek mengenai perlambatan ekonomi global, menyusul sinyal dovish dari European Central Bank.

Pada Kamis (7/3) waktu setempat, ECB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Benua Biru dan melancarkan kejutan dengan stimulus kebijakan baru sehingga membuat para mencemaskan yang terburuk bagi ekonomi global. Gubernur ECB, Mario Draghi, menuturkan bahwa ekonomi berada dalam periode pelemahan berkelanjutan dan ketidakpastian yang meluas.

Saat ini, pasar menantikan data nonfarm payroll AS bulan Februari yang bakal diumumkan hari ini waktu setempat, untuk memperoleh indikasi terbaru tentang pertumbuhan upah dan kekuatan pasar tenaga kerja. Ekonom memproyeksikan peningkatan angka pekerjaan sebanyak 180.000 pada bulan kemarin.

“Apakah dolar AS dapat bertahan pada tren naiknya dalam jangka panjang masih bisa diperdebatkan. Tetapi, untuk saat ini, laporan pekerjaan AS yang kuat akan memberikan dorongan lebih lanjut untuk mata uang itu,” ujar pakar strategi senior FX di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Hal tersebut pada gilirannya akan semakin membebani euro, setelah pertemuan ECB dan keresahan tentang Brexit.”

Loading...