Jumat Sore, Kurs Rupiah Dekati Rp14.500 Saat Dolar Lesu

Rupiah - mappijatim.or.idRupiah - mappijatim.or.id

Kritik Presiden AS, Donald Trump, terhadap negaranya yang terlalu kuat dan kebijakan membuat bergerak lebih rendah. Sayangnya, momentum ini gagal dimanfaatkan untuk naik ke zona hijau. Index mencatat, pada akhir pekan (20/7) pukul 15.57 WIB, mata uang Garuda melemah 53 poin atau 0,37% ke level Rp14.495 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 28 poin atau 0,19% di posisi Rp14.442 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (19/7) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.447 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit ke area hijau.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di level Rp14.520 per dolar AS, terjun 102 poin dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.418 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,61% menghampiri rupiah, sedangkan kenaikan tertinggi sebesar 0,13% dialami peso Filipina.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Jumat, setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan keprihatinan tentang kekuatan mata uang negaranya dan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau melandai 0,042 poin atau 0,05% menuju level 95,121 pada pukul 11.02 WIB, setelah kemarin berakhir menguat.

Diberitakan Reuters, dalam sebuah interview dengan CNBC pada Kamis waktu setempat, Trump menuturkan bahwa dolar AS yang terlalu kuat justru akan menempatkan negaranya dalam posisi yang kurang menguntungkan, ketika yuan China melemah. Menurutnya, kurs yang kuat cenderung akan membuat ekspor negara menjadi lebih mahal.

Selain itu, Trump juga mengisyaratkan perasaan tidak senang tentang langkah pengetatan moneter yang ditempuh oleh Federal Reserve. Trump mengkhawatirkan potensi dampak kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS terhadap ekonomi Negeri Paman Sam dan daya saing perusahaan asal negara adidaya tersebut.

“Pasar terlihat agak lengah. Diskusi dan perdebatan seputar kebijakan perdagangan sejauh ini belum tentu melibatkan valuta asing,” ujar senior FX and rates strategist di Barclays, Shinichiro Kadota. “Sekarang, sepertinya Trump mengkritik pelemahan yuan dan euro, serta kekuatan greenback. Saya kira itu membuat pasar sedikit terkejut.”

Loading...