Semakin Urgen, Jokowi Tegaskan Proyek Pemindahan Ibukota Jalan Terus

Presiden Joko Widodo - news.detik.comPresiden Joko Widodo - news.detik.com

Setelah sempat ‘terlupakan’, terutama karena pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berakhir, , , menegaskan bahwa rencana pemindahan ibukota dari Jakarta menuju Kalimantan masih tetap berjalan. Relokasi yang diumumkan tak lama setelah masa jabatan kedua Jokowi, panggilan akrabnya, sekarang memiliki urgensi baru, dengan Jakarta diprediksi akan berada di bawah permukaan laut alias tenggelam pada tahun 2030 mendatang.

Seperti dilansir dari Nikkei, saat meninjau ruas jalan tol sepanjang 97 km yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda, Presiden Jokowi mengatakan bahwa akan melanjutkan rencana senilai Rp466 triliun untuk memindahkan ibukota. Dengan sekarang dalam masa jabatan kedua dan terakhir, pernyataan tersebut menunjukkan dorongan baru untuk rencana relokasi, solusi yang diusulkan untuk kepadatan Jakarta, polusi, dan banjir.

“Untuk membangun ibukota baru, aspek yang paling penting adalah akses ke daerah untuk mengirimkan logistik,” kata Jokowi dalam siaran pidato di kanal YouTube. “Kami sedang memeriksa untuk melihat secara detail di mana (kita dapat membangun) pelabuhan, bandara, dan lainnya, yang berarti rencana ibukota baru masih berjalan.”

Seperti diketahui, tidak lama setelah terpilih kembali pada 2019, ia mengumumkan rencana senilai Rp466 triliun untuk memindahkan ibukota administratif Indonesia ke Kalimantan Timur, dengan alasan kemacetan kronis dan fondasi tenggelamnya Jakarta, serta kebutuhan untuk memacu kegiatan dan pertumbuhan di Indonesia bagian timur. Meski demikian, Jakarta akan tetap menjadi pusat keuangan dan komersial negara.

Sayangnya, rencana itu seperti ‘terkubur’ selama pandemi Covid-19 karena pemerintah memindahkan sebagian besar anggaran dan perhatiannya untuk mengatasi krisis kesehatan dan dampaknya terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sebenarnya, sesaat sebelum pandemi, proyek tersebut telah menarik orang-orang seperti CEO SoftBank Group, Masayoshi Son, mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Sekarang, relokasi dihantui urgensi baru. Kelompok lingkungan Greenpeace dalam laporannya pada bulan Juni kemarin memperingatkan bahwa Jakarta menghadapi ‘ancaman ganda’, yakni naiknya permukaan laut dan tenggelamnya tanah, dengan 17% dari luas daratan kota diproyeksikan berada di bawah permukaan laut pada tahun 2030 mendatang.

Sebuah artikel terbaru yang diterbitkan di situs arsitektur Rethinking The Future menegaskan apa yang sudah diketahui penduduk Jakarta. Kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara, dengan populasi sekitar 11 juta jiwa, adalah ibukota yang sangat padat yang tersedak asap dan tenggelam dalam air yang tercemar. Artikel itu juga menyebut Jakarta sebagai tempat dengan rancangan terburuk di planet ini.

Namun, penundaan yang disebabkan pandemi telah menimbulkan keraguan apakah Presiden Jokowi akan dapat meletakkan dasar yang cukup bagi proyek ibukota untuk maju dan memulai pemindahan ibukota sebelum masa jabatannya berakhir pada Oktober 2024. Pertanyaan penting lainnya adalah apakah penggantinya nanti akan tertarik melanjutkan proyek tersebut atau tidak.

Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, yang merupakan musuh bebuyutan Jokowi dalam pemilihan 2014 dan 2019 sebelum ia bergabung dengan kabinet, secara konsisten memimpin survei pemilih tentang kemungkinan calon presiden Indonesia berikutnya selama dua tahun terakhir. Prabowo sendiri menyatakan mendukung rencana relokasi tersebut saat mendampingi Jokowi dalam peninjauan lokasi.

“Saya memberikan saran kepada presiden bahwa ini adalah rencana strategis dan kita harus berani memindahkan ibukota,” kata Prabowo. “Saya pikir itu sudah direncanakan dengan sangat baik, dengan banyak studi (yang relevan) dilakukan. Saya sangat mendukung dan mengatakan kepada presiden bahwa kita harus melanjutkannya.”

Loading...