Angkat Orang Media dan Generasi Muda, Jokowi Tingkatkan Citra Publik?

Joko Widodo, Presiden Indonesia - bengkulutoday.comJoko Widodo, Presiden Indonesia - bengkulutoday.com

JAKARTA – Presiden , , tampaknya sedang berusaha untuk meningkatkan dukungan publik dengan memberikan sejumlah jabatan penasihat dan kabinet kepada para bos media atau mereka. Hal ini, menurut pengamat, adalah upaya untuk membungkam sejumlah kritik ketika pemerintah berusaha mendorong reformasi yang berpotensi tidak .

Dilansir Nikkei, pendiri Mahaka Group, Erick Thohir, yang memiliki beberapa stasiun TV, surat kabar, dan stasiun radio, telah ditunjuk sebagai Menteri BUMN. Sementara itu, jabatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru diserahkan kepada Wishnutama Kusubandio, salah satu pendiri NET TV. Wakil Winshutama adalah Angela Tanoesoedibjo, putri Hary Tanoesoedibjo, pendiri MNC Group, yang juga memiliki jaringan TV.

Daftarnya belum berhenti di situ, salah satu staf khusus Presiden Jokowi yang baru adalah Putri Indahsari Tanjung, anak perempuan Chairul Tanjung, pendiri CT Corp. yang memiliki stasiun TV dan outlet berita online. Sebelumnya, sudah ada Surya Paloh, ketua Partai Nasdem yang termasuk dalam koalisi Jokowi, yang merupakan pemilik Media Group, operator saluran berita Metro TV dan sejumlah surat kabar daerah.

“Banyak tokoh media berpengaruh yang diangkat, menunjukkan perlunya citra dari presiden dan pemerintah, meskipun Jokowi mengatakan dia tidak akan rugi dalam masa jabatan keduanya,” kata Ubaidillah Badrun, seorang profesor politik di Universitas Negeri Jakarta. “Penunjukan itu mungkin sudah ‘merusak demokrasi’ dengan merusak pelaporan yang objektif tentang pemerintah.”

Ia menambahkan, masalah yang dihadapi pemerintah memang tidak mudah, terutama di bidang ekonomi, ketika banyak keputusan tidak populer harus diambil. Gangguan terkecil, mungkin termasuk dari para kritikus, akan berdampak pada upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. “Saya bisa melihat ini sebagai salah satu cara Jokowi untuk memadamkan gangguan itu dengan mengumpulkan mereka semua dalam lingkaran pemerintahan,” sambung Badrun.

Jokowi, yang dilantik pada bulan Oktober kemarin, juga berupaya untuk menjaring dukungan para generasi muda. Untuk itu, ia pun telah menunjuk tim yang terdiri dari tujuh pengusaha dan sosial, yang berusia 23 hingga 36 tahun, sebagai penasihat. Di antara mereka, ada nama Adamas Belva Syah Devara, pendiri dan CEO startup Ruangguru; Andi Taufan Garuda Putra, pendiri startup pinjaman peer-to-peer Amartha; dan Gracia Billy Mambrasar, CEO Kitong Bisa, penyedia anak-anak Papua.

“Tujuh orang muda ini akan menjadi mitra diskusi saya setiap minggu, setiap hari, (dan) akan memberikan ide-ide inovatif, sehingga kami dapat mencari cara baru di luar kotak dan mengejar kemajuan,” kata Jokowi kepada wartawan pekan lalu. “Saya juga meminta mereka untuk menjadi jembatan saya dengan kaum muda, santri muda, diaspora yang tersebar di berbagai tempat. Saya yakin dengan ide-ide segar dan kreatif untuk membangun negara ini, kita akan lihat nanti apakah ide-ide ini dapat diterapkan pada pemerintah.”

Meski demikian, wakil ketua Partai Gerindra, Fadli Zon, mitra koalisi baru Jokowi, tampaknya kurang puas. Dikutip dari beberapa media lokal, ia mengatakan bahwa penasihat milenium adalah ‘hiasan’ dan tugas mereka akan tumpang-tindih dengan institusi lain. “Jauh dari semangat bahwa presiden sendiri berharap untuk efisiensi. Jadi, ini sama saja dengan pemborosan,” ujar Fadli Zon.

Sedikit berbeda, Hasanuddin Ali, CEO Alvara Strategic Research, mengatakan bahwa penunjukan itu dapat membantu Jokowi mendapatkan kembali dukungan pemuda. Penghitungan cepat untuk pemilihan presiden bulan April oleh satu jajak pendapat menunjukkan presiden memenangkan lebih dari setengah suara generasi milenium.

“Dengan begitu banyak masalah, Jokowi dipandang tidak memihak generasi muda,” kata Ali, mengutip demonstrasi mahasiswa pada bulan September atas revisi KUHP dan UU KPK. “Namun, para penasihat yang ditunjuknya hanya mewakili sepotong kecil kaum millennial. Yang kami kenali adalah bahwa banyak generasi millennial yang kecewa mengenai masalah ini berasal dari kelas bawah.”

Loading...