Joint Venture Astra Incar Sektor Bisnis Pembangkit Listrik

Indonesia Astra International akan membangun pembangkit melalui kemitraan dengan dua perusahaan Jepang, Corp. dan Electric Power. Pembangkit listrik senilai US$ 4,1 M bertenaga batu bara itu berada di Jawa Tengah.

Astra yang selama ini berkecimpung dalam industri otomotif, perkebunan, dan perbankan, rupanya sedang mencari mengembangkan bisnis di sektor . Hal itu disinyalir karena adanya kebutuhan pemerintah Indonesia untuk menambah 35.000 megawatt dalam kapasitas yang dihasilkan pada 2019 untuk mengatasi kekurangan listrik.

Sebagai produsen terbesar di Indonesia untuk industri mobil dan sepeda motor, Astra telah menghadapi headwinds dari kepercayaan konsumen yang melemah karena dampak penurunan nilai tukar . Kelompok ini menghadapi penurunan dua digit laba bersih untuk sembilan bulan yang terakhir pada bulan September, tetapi hal itu tidak membuat tertundanya investasi terkait bisnis infrastruktur lainnya. mengakuisisi saham mayoritas di Acset Indonusa – perusahaan konstruksi – pada awal tahun, dan unit Astra yang lain memiliki 25% dari jalan tol di Jawa.

Unitra Persada Energia (PDU) – sebuah unit dari United Tractors, peralatan berat dan pertambangan batu bara anak usaha Astra – baru-baru ini memasuki joint venture pembangkit listrik sebagai mitra minoritas. PDU dan Kansai Electric keduanya memiliki 25% saham, sementara Sumitomo memiliki 50% saham.

Perusahaan belum mengungkapkan besaran investasi mereka kepada publik. Proyek itu akan mengoperasikan pembangkit dengan total kapasitas 2.000 megawatt dari pembangkit yang akan on line pada tahun 2020. Listrik yang dihasilkan akan selama 25 tahun kepada .

Proyek berikutnya dari Sumitomo yang terdekat adalah Tanjung Jati B, pembangkit listrik 2.640 MW yang menghasilkan sekitar 10% dari listrik untuk Jawa dan Bali.

United Tractors mengatakan perusahaan akan memasok batubara untuk usaha dari anak perusahaan, Pamapersada Nusantara, yang memiliki kontrak pertambangan sebagai bisnis inti bersama dengan sejumlah tambang batu bara di Kalimantan. United Tractors juga mengikuti lelang secara terpisah pada pembangkit listrik di Sumatera bagian selatan.

United Tractors adalah distributor eksklusif dari Komatsu untuk mesin berat di Indonesia, namun omset penjualannya telah sangat terpengaruh oleh pasar komoditas yang lemah. Dalam 11 bulan hingga November, penjualan Komatsu turun 41% dari tahun sebelumnya menjadi hanya lebih dari 2.000 unit. Kontrak pasokan batubara jangka panjang untuk pembangkit listrik diharapkan bisa menjadi cara untuk menstabilkan pendapatan.

Sejauh ini, reaksi pasar saham untuk pengumuman belum diketahui. Pembangkit listrik adalah bisnis yang “penting tetapi merupakan strategi jangka panjang” untuk United Tractors, kata Stefanus Darmagiri, seorang analis di Danareksa Sekuritas. “Investor lebih peduli tentang kemungkinan margin yang lebih rendah pada tahun karena negosiasi yang sulit dengan produsen batubara.” [yap/nikkei]

Loading...