Survei Unggulkan Joe Biden, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - BBC.comRupiah - BBC.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Jumat (9/10) sore ketika greenback cenderung tertekan di seiring jajak pendapat yang mengunggulkan Joe Biden memimpin AS. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.700 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.737 per , menguat 13 poin atau 0,09% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.750 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia sukses mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,72% dialami dolar Taiwan.

Dilansir dari CNBC Indonesia, dolar AS harus rela bonyok di pasar Asia, setelah notulen rapat atau minutes of meeting Federal Open Market Committee/FOMC edisi September 2020 menuliskan banyak kata ‘ketidakpastian’. Tingginya risiko downside terhadap AS, membuat Gubernur The Fed, Jerome Powell, dan kolega memandang acuan perlu ditahan rendah sebagai upaya ‘merangsang’ aktivitas ekonomi.

Tak hanya itu yang menyebabkan dolar AS terpukul. Seperti disalin dari Reuters, greenback harus melayang menuju kerugian mingguan pada hari Jumat, karena bertaruh Joe Biden dapat melenggang menjadi presiden AS yang baru dan pada lebih banyak pengeluaran stimulus AS. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,146 poin atau 0,16% ke level 93,459 pada pukul 15.58 WIB.

Lawannya, yuan China, justru mampu melompat tinggi ketika pasar Negeri Panda dibuka kembali setelah jeda pertengahan musim gugur. Dengan lompatan harian mencapai 1% terhadap greenback, sebagian investor berpendapat bahwa itu memberikan salah satu indikasi paling jelas keunggulan Biden dalam jajak pendapat, yang mungkin memperbaiki hubungan dua ekonomi terbesar di dunia.

“Saya pikir pesan utamanya adalah bahwa (Bank Rakyat China) memungkinkan apresiasi renminbi lebih lanjut pada level ini,” kata kepala strategi FX Asia di Mizuho Bank di Hong Kong, Ken Cheung. “Prospek pemerintahan Biden yang kurang condong ke tarif dan sengketa perdagangan adalah dorongan lain. Jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden memimpin, dan itu berarti risiko melanjutkan perang perdagangan baru semakin kecil, sehingga positif untuk renminbi.”

Loading...