Jelang Risalah The Fed, Rupiah Melemah Senggol Level Rp14.200

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

harus kembali ke zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (23/5) ini di tengah-tengah penantian investor mengenai rilis risalah . Menurut Index pukul 15.51 WIB, mata uang Garuda menutup hari ini dengan pelemahan sebesar 67 poin atau 0,47% ke level Rp14.209 per AS.

Sebelumnya, rupiah sempat berakhir menguat 48 poin atau 0,34% di posisi Rp14.142 per pada tutup dagang Selasa (22/5) kemarin. Namun, mata uang NKRI berbalik melemah tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.143 per ketika membuka pagi tadi. Setelah itu, spot praktis tidak punya daya untuk bergerak ke zona hijau hingga akhir transaksi.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.192 per dolar AS, melorot 14 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.178 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak lebih rendah terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% menghampiri rupiah.

Dari pasar , indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Rabu, ketika investor menunggu risalah pertemuan kebijakan terakhir Federal Reserve untuk memperoleh petunjuk tentang langkah pengetatan moneter AS lebih lanjut. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,058 poin atau 0,06% ke level 93,667 pada pukul 11.17 WIB, meski mengalami pelemahan terhadap yen Jepang.

Seperti dikutip dari Reuters, yen bergerak menguat karena investor mencari aset yang lebih aman di tengah kekhawatiran ekonomi setelah Presiden AS, Donald Trump, marah atas kemajuan mengenai pembicaraan hubungan perdagangan antara negaranya dengan China. Trump pada Selasa kemarin mengatakan bahwa dia tidak senang dengan pembicaraan perdagangan baru-baru ini dengan Negeri Panda.

Saat ini, investor sedang menantikan rilis risalah The Fed yang bakal diumumkan pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB. Dalam pernyataan pasca-pertemuan pada awal Mei, The Fed sempat mengatakan inflasi telah ‘bergerak dekat’ ke target. “Kami berharap memiliki sedikit kejelasan tentang prospek inflasi dari The Fed,” ujar kepala strategi pasar untuk UOB di Singapura, Heng Koon How.

Loading...