Jelang Rilis Data Inflasi AS, Rupiah Berakhir Menguat di Hari Valentine

mampu memanfaatkan pelemahan yang dialami greenback untuk bergerak menguat sepanjang perdagangan Rabu (14/2) ini, ketika fokus tertuju pada rilis inflasi bulan Januari. Menurut Index pukul 15.59 WIB, NKRI menutup di Hari Valentine dengan penguatan sebesar 22 poin atau 0,16% ke level Rp13.629 per .

Sebelumnya, rupiah harus ditutup melemah 12 poin atau 0,09% di posisi Rp13.651 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (13/2) kemarin. Pagi tadi, mata uang Garuda mampu rebound dengan dibuka menguat 13 poin atau 0,10% ke level Rp13.638 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot mampu bertahan dari terjangan dolar AS sehingga berakhir positif.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.657 per dolar AS, terkoreksi 13 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.644 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia kompak menguat versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,90% menghampiri yen Jepang, disusul won Korea Selatan yang naik 0,66%.

Dari global, pergerakan indeks dolar AS merosot ke level terendah dalam 15 bulan terhadap yen Jepang pada perdagangan Rabu, ketika fokus investor tengah tertuju pada laporan data inflasi AS terbaru, di tengah goyangan baru-baru ini di saham. Mata uang Paman Sam terpantau melorot 0,7% menuju level 107,050 yen, atau posisi terendah sejak November 2016.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS sebelumnya sempat menikmati jeda singkat terhadap yen karena saham Paman Sam berhasil menguat selama tiga sesi beruntun pada hari Selasa, setelah turun cukup tajam di pekan lalu. Tetapi, greenback kembali goyah saat saham Nikkei-225 Jepang kembali menguat tipis 0,38% pada pagi tadi.

Saat ini, fokus investor tengah tertuju pada laporan inflasi AS bulan Januari, yang diprediksi bakal menjadi patokan yang menentukan kebijakan Federal Reserve selanjutnya. Jika angka inflasi tinggi, maka bank sentral tersebut berpeluang mempercepat kebijakan pengetatan moneter mereka dengan menaikkan suku bunga acuan.

“Laporan consumer price index (CPI) AS pada hari Rabu ini akan menjadi CPI paling penting dalam sepuluh tahun terakhir,” kata founder The Seven Report, Tom Essaye, dalam sebuah catatan yang dikutip oleh CNBC. “Pasalnya, inflasi yang naik bakal menjadi risiko terbesar rally pasar saham bertahun-tahun.”

Loading...