Jelang Rilis Data Ekonomi AS, Rupiah Melemah di Awal Dagang

Jakarta dibuka 0,03 persen atau 4 poin ke posisi Rp 13.463 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (22/12). Kemarin, ditutup melemah 0,16 persen atau 21 poin ke Rp 13.459 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.423 hingga Rp 13.485 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta mengungkapkan jika prospek rupiah dalam jangka pendek ini kemungkinan masih akan tergerus oleh sentimen . Meski demikian, konsistensi kenaikan harga komoditas dapat menjaga pergerakannya lebih stabil. Lebih lanjut ia mengatakan jika rupiah berpotensi menguat dalam perdagangan hari ini seiring dengan sentimen positif dari Fitch.

Indeks dolar AS terpantau melemah 0,06 persen atau 0,06 poin ke 103.12 pada pukul 16.01 WIB. Penguatan dolar AS mereda usai shock pelemahan yen juga mereda. Pasalnya, yen sempat terpuruk usai memutuskan untuk mempertahankan stimulus.

Sementara itu pernyataan Gubernur Federal Reserve Janet Yellen yang memprediksikan AS tahun 2017 akan positif cukup memberikan kekuatan untuk USD. Terutama para kini sedang terfokus pada rilis ekonomi AS kuartal III 2016. AS diperkirakan akan naik tipis dari 3,2 persen menjadi 3,3 persen.

Sedangkan dari domestik, dolar yang semakin tinggi menjelang akhir tahun cukup memberatkan posisi rupiah. Tetapi, hari ini Fitch menaikkan outlook Indonesia dari stable menjadi positive. “Hal ini bisa memberikan alasan untuk rupiah ikut menguat, apalagi di tengah penurunan dollar index,” ujarnya.

Imbal hasil global yang menurun sekaligus jadi momen turunnya imbal hasil SUN yang umumnya bersamaan dengan penguatan rupiah. Sementara itu, sentimen negatif masih berasal dari risiko fiskal yang sampai pada 20 Desember 2016 dilaporkan bahwa realisasi penerimaan pajak hanya 76,17% dari target, sehingga defisit diperkirakan akan lebih tinggi dari target pemerintah, yakni 2,7% terhadap PDB.

Loading...