Jelang Putusan RDG BI, Rupiah Kembali Bergerak di Zona Merah

Jakarta dibuka melemah 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 13.546 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (16/11). Sebelumnya, Rabu (15/11) rupiah berakhir terapresiasi 0,12 persen atau 16 poin ke level Rp 13.535 per AS usai bergerak pada rentang angka Rp 13.532 hingga Rp 13.549 per AS.

Indeks terpantau menguat terhadap sebagian besar utama di akhir perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis pagi waktu Indonesia barat. Penguatan USD ini diperkirakan karena para pelaku pasar masih mencerna ekonomi penting Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Pada Rabu (15/11) Departemen Amerika Serikat melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik tipis sebesar 0,1 persen pada bulan Oktober 2017 lalu usai mengalami kenaikan sebesar 0,5 persen pada bulan September 2017. Sedangkan kenaikan IHK secara tahun ke tahun dilaporkan turun dari 2,2 persen menjadi 2,0 persen pada September 2017. Perolehan angka tersebut sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya.

Sementara itu, rupiah tampaknya masih menanti sentimen dari hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan dirilis pada Kamis (16/11). Berdasarkan survei Bloomberg terhadap 22 ekonomi, BI kemungkinan masih akan mempertahankan suku acuan di angka 4,25 persen.

“Keputusan kebijakan yang stabil akan memberi BI waktu untuk melihat bukti lebih lanjut bahwa inflasi sedang menuju ke batas bawah kisaran targetnya, yang akan memberi ruang untuk mengakomodasi tekanan inflasi yang disebabkan pajak pada tahun 2018,” papar ING Bank, seperti dilansir Bloomberg.

Sejumlah juga yakin jika pada perdagangan hari ini rupiah mampu bertahan di zona hijau karena data ekonomi AS yang kurang memuaskan. Menurut Putu Agus Pransuamitra, PT Monex Investindo Futures, sentimen positif penopang rupiah sebenarnya lebih didominasi dari ketidakpastian penerapan reformasi pajak AS.

Sedangkan Josua Pardede, Ekonom PT Bank Permata Tbk menuturkan bahwa nilai tukar rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh pengumuman suku bunga acuan BI. Apabila kembali menahan suku bunga, maka rupiah berpotensi untuk kembali menguat. “Namun biasanya jelang keputusan dibacakan volatilitasnya akan cukup tinggi,” tandas Josua.

Loading...