Jelang Pidato Trump, Rupiah Dibuka Melemah di Awal Perdagangan

Jakarta dibuka melemah 0,19 persen atau 25 poin ke level Rp 13.363 per pada perdagangan pagi hari ini, Rabu (1/3). Sedangkan indeks memulai awal bulan ini dengan penguatan sebesar 0,38 persen atau 0,380 poin ke posisi 101,500.

Kemarin, Selasa (28/2) rupiah berakhir terapresiasi 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 13.338 per dolar AS usai diperdagangkan di rentang angka Rp 13.335 hingga Rp 13.355 per dolar AS. Sayangnya, pada perdagangan hari ini Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan jika rupiah akan berpotensi untuk melemah seiring dengan adanya sentimen negatif dari AS dan berbagai dalam negeri.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, di tengah penantian para terhadap pidato Donald Trump di hadapan Kongres AS pada pukul 09.00 WIB, spekulasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) target pada meeting yang dijadwalkan pertengahan Maret 2017 justru semakin bertambah, merespons komentar hawkish dari sejumlah pejabat . Menurut , peluang kenaikannya meningkat dari 50% ke 70%.

“Pelaku cenderung berhati-hati menanti pidato Presiden Trump, yang diharapkan memberikan kejelasan rencana kebijakan fiskal AS,” tutur analis Monex Investindo Futures, Vidi Yuliansyah.

Indeks dolar AS yang awalnya lemah di pembukaan pun kembali menguat bersamaan dengan kenaikan US Treasury yield. “Penguatan dolar bisa semakin intensif jika pidato Trump menekankan pada belanja infrastruktur yang besar serta pemangkasan tingkat pajak yang agresif,” ungkap Rangga Cipta.

Selain kembali menguatnya dolar AS, rupiah kemungkinan juga akan tertekan akibat data inflasi Februari 2017 yang diprediksi naik. “Rilis pada pukul 11:00 WIB memperkirakan inflasi ke 3,95% YoY (Year on Year). Pagi ini, indeks manufaktur Indonesia Februari 2017 yang kembali turun di bawah 50, menambah sentimen negatif,” imbuhnya.

Loading...