Jelang Pemilu, Pertumbuhan Ekonomi 2018 Gagal Capai Target Pemerintah

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia - www.hestanto.web.idPertumbuhan Ekonomi Indonesia - www.hestanto.web.id

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari Rabu (6/2) kemarin mengumumkan bahwa produk bruto (PDB) dalam negeri sepanjang tahun 2018 tumbuh sebesar 5,17%. Meski tumbuh pada laju tercepat sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo, namun angka itu masih belum cukup mencapai target yang dipatok sebesar 5,4% dalam APBN.

Seperti diberitakan Nikkei, yang dirilis tengah pekan ini menjadi yang terakhir sebelum pemilihan presiden pada tanggal 17 April mendatang, dan dapat menjadi dasar penilaian banyak pemilih atas kinerja pemerintah sekarang di sektor ekonomi. Presiden Joko Widodo awalnya menjanjikan pertumbuhan sebesar 7% ketika ia terpilih pada tahun 2014 lalu. Namun, pertumbuhan hanya melayang di kisaran 5% sejak ia mulai menjabat.

Indonesia sebelumnya telah menghadapi banyak tantangan selama dua belas bulan terakhir, termasuk beberapa bencana alam besar dan nilai tukar rupiah yang jatuh. Pada satu titik, rupiah sempat melemah ke level terendah terhadap dolar AS sejak krisis pada tahun 1998. Bank Indonesia lantas menaikkan suku bunga sebesar 175 basis poin sepanjang tahun kemarin.

Angka-angka PDB mengikuti memburuknya asing langsung yang dirilis pada akhir Januari 2019. FDI (Foreign Direct Investment) turun 8,8% pada tahun lalu, melorot untuk pertama kalinya selama masa jabatan Jokowi, karena investor menunggu waktu mereka menjelang pemilihan. Jakarta membutuhkan modal untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur dan inisiatif lainnya, namun asing yang lamban menjadi hambatan bagi perekonomian.

“Mengingat turbulensi eksternal terkait dengan perang , penurunan harga komoditas dan sikap moneter yang ketat oleh Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi 5,17% sedikit (lebih baik) dari yang diperkirakan,” kata kepala ekonom di Bank Central Asia, David Sumual. “Tetapi, pemerintah harus melakukan upaya ekstra untuk meningkatkan investasi. Jika tidak, pertumbuhan hanya akan mencapai 4,9% atau 5,0% pada 2019.”

Jokowi sebenarnya telah berupaya menampilkan dirinya sebagai seorang reformis yang bersedia memotong birokrasi berbelit untuk membantu urusan bisnis dalam dan luar negeri. Namun, ia telah mundur dari sejumlah langkah deregulasi baru-baru ini, mengingat risikonya jika tidak ‘tampil rasional’ menjelang perhelatan pemilu.

Kubu pesaing Jokowi, Prabowo Subianto, dengan cepat mengkritik pemerintah karena penanganan ekonominya. Wakil kandidat presiden, Sandiaga Uno, yang juga mantan wakil gubernur Jakarta dan seorang pengusaha terkemuka, telah melakukan tur di daerah pedesaan dalam upaya untuk menyoroti kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat kelas bawah karena kenaikan harga.

Pemerintah sendiri telah mengambil berbagai langkah untuk menjaga harga barang, dan mencoba untuk meningkatkan konsumsi swasta, yang menyumbang lebih dari setengah dari PDB, dengan memberikan bonus tambahan kepada pegawai negeri dan pensiunan. Konsumsi swasta tumbuh 5,05% pada tahun 2018, sedikit lebih cepat dari tahun lalu. Acara besar seperti Asian Games dan pertemuan tahunan IMF-World Bank kemungkinan berkontribusi pada pertumbuhan.

Loading...