Jelang Libur Lebaran, Rupiah Merah di Akhir Pekan

Rupiah - swarasemar.comRupiah - swarasemar.com

Menjelang libur panjang , ternyata harus puas berada di teritori merah pada perdagangan Jumat (8/6) ini, meski indeks AS masih berkubang di level terendah dalam tiga minggu. Menurut paparan Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan akhir pekan dengan pelemahan sebesar 57 poin atau 0,41% ke level Rp13.932 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melemah 22 poin atau 0,16% di posisi Rp13.875 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/6) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi, dengan dibuka terdepresiasi 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.887 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis harus bergerak di area merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.902 per dolar AS, turun 34 poin atau 0,24% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.868 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berkutik versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,52% dialami rupee India.

“Indeks dolar AS memang diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terutama euro, seiring makin kuatnya sinyal ECB menghentikan pembelian obligasi,” tutur ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, dilansir Bisnis. “Namun, akan memindahkan sejumlah dana mereka ke greenback, imbas kekhawatiran atas risiko di utang negara berkembang.”

Dari pasar , indeks dolar AS memang masih bergerak di kisaran level terendah dalam tiga minggu terhadap sekeranjang mata uang utama, karena imbal hasil obligasi AS turun tajam, sedangkan euro melanjutkan rebound. Mata uang Paman Sam terpantau hanya menguat tipis 0,018 poin atau 0,02% ke level 93,453 pada pukul 10.31 WIB, setelah sebelumnya ditutup drop 0,179 poin.

“Pergerakan terbaru dalam mata uang didorong oleh perkembangan di pasar obligasi. Penghindaran risiko sedang terjadi di kawasan seperti Eropa, terkait sinyal ECB yang mulai melonggarkan pembelian obligasi,” jelas ahli strategi valas senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa, dilansir Reuters. “Ada juga kekhawatiran terhadap agenda politik dan kebijakan minggu depan, seperti rapat FOMC dan KTT AS-Korea Utara.”

Loading...