Jumat Sore, Rupiah Berotot Jelang Laporan NFP AS

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

JAKARTA – mampu tampil perkasa hingga Jumat (10/1) sore karena tensi antara AS dan Iran sedikit menurun di tengah penantian akan nonfarm payrolls Negeri Paman Sam. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 82 poin atau 0,60% ke level Rp13.772 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.812 per dolar AS, menguat 48 poin atau 0,34% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.860 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata yang mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,59% menghampiri rupiah.

Sebelumnya, analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, seperti dilansir Bisnis, mengatakan bahwa rupiah diperkirakan kembali menguat pada hari ini, didorong turunnya tensi geopolitik antara AS-Iran setelah pidato AS, Donald Trump, kemarin. Trump sendiri memilih untuk melanjutkan sanksi ekonomi baru dibandingkan melakukan serangan balasan ke Iran.

Dari pasar global, indeks dolar AS tampak bergerak lebih rendah pada hari Jumat, ketika para menantikan laporan data nonfarm payrolls AS terbaru yang rencananya akan diumumkan hari ini waktu setempat. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,046 poin atau 0,05% ke level 97,404 pada pukul 12.45 WIB, berbalik dari transaksi sebelumnya.

Sebelumnya, greenback menerima dukungan ketika prospek perang di Timur Tengah antara AS dan Iran perlahan surut. Dukungan lebih lanjut datang dari kenaikan imbal hasil utang AS serta sinyal ekonomi yang kuat, dengan data menunjukkan kenaikan di sektor layanan AS, klaim pengangguran yang turun, dan perekrutan yang lebih solid.

Saat ini, pasar menantikan data nonfarm payrolls AS bulan Desember 2019. Konsensus memperkirakan ada 164.000 pekerjaan tambahan pada akhir tahun kemarin, setelah November menambahkan 264.000 pekerjaan. “Mata uang Asia akan berada dalam ‘pola holding’ karena pasar menunggu data payroll AS malam ini,” tutur kepala analis pasar di National Australia Bank Ltd. di Singapura, Christy Tan.

Loading...