Jelang Keputusan The Fed, Rupiah Bergerak Rebound di Pembukaan

rupiah - m.akurat.corupiah - m.akurat.co

mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (30/1) dengan penguatan sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp 14.089 per dolar AS. Kemarin, Selasa (29/1), nilai tukar uang Garuda berakhir terdepresiasi 22 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp 14.094 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS berbalik menguat lantaran pound sterling Inggris memperpanjang kerugian terhadap dolar AS, setelah amandemen yang ditunggu-tunggu untuk menunda Brexit ditolak oleh pihak parlemen Inggris.

Dilansir Xinhua, Rabu (30/1), para pelaku pasar juga tengah menantikan pidato Ketua AS Jerome Powell yang dijadwalkan pada Rabu ini. Komite Pasar Terbuka Federal bank sentral telah memulai pertemuan kebijakan dua harinya pada Selasa. Pasar bertaruh pada kemungkinan pelonggaran pengetatan kebijakan moneter pada akhir tahun ini, yang biasanya dinilai kurang menguntungkan untuk USD di pasar valuta asing .

Pada perdagangan kemarin rupiah terkoreksi lantaran para berspekulasi menjelang rapat The Fed. “Ini karena asing melakukan profit taking dahulu jelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC),” kata Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, seperti dilansir Kontan. The Fed diprediksi akan menahan kenaikan suku bunganya pada Kamis dini hari WIB.

Analis Asia Trade Points Futures, Andri Hardianto menambahkan, pengumuman data inflasi dan produk domestik bruto (PDB) pada pertengahan minggu ini dapat menjadi indikator arah rupiah bergerak stabil terhadap dolar AS. Tetapi Andri mengingatkan supaya lebih waspada terhadap angka defisit yang tinggi dalam neraca perdagangan.

Di samping itu, gerak rupiah juga dinilai stabil berkat langka Bank Indonesia (BI) yang menjaga kecukupan likuiditas pasar rupiah dan valas. “Instrumen DNDF cukup ampuh menjaga pergerakan rupiah. Sehingga BI memantau kapan rupiah diburu dan dicari investor,” beber Andri.

Myrdal menuturkan jika ada peluang investor asing masuk ke pasar domestik. “Apalagi yield obligasi AS masih rendah,” ucap Myrdal. Adapun imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun turun ke angka 2,74 persen. Myrdal memprediksi jika hari ini rupiah akan terkoreksi lagi karena pasar masih mempertimbangkan keputusan The Fed.

Loading...