Jelang Hasil Rapat The Fed, Rupiah Tergerus di Awal Perdagangan

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

Jakarta – Kurs rupiah mengawali perdagangan setelah libur Hari Buruh dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 13.928 per dolar pada Rabu (2/5) pagi. Sebelumnya, Senin (30/4), rupiah ditutup terdepresiasi sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp 13.913 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, menguat 0,66 persen menjadi 92,451 lantaran para investor berharap pertemuan akan membuka jalan untuk kenaikan acuan Amerika Serikat tahun ini.

Seperti diketahui, telah memulai pertemuan kebijakan dua harinya pada Selasa (1/5) dan akan berakhir pada hari Rabu waktu setempat. Menurut para analis, bank sentral Amerika Serikat kemungkinan akan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Namun diprediksi akan mengisyaratkan kenaikan lanjutan pada Juni atau membahas prospek kenaikan suku bunga yang lebih agresif pada tahun 2018 ini.

Sementara itu, dari sektor Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa data manufaktur Amerika Serikat pada bulan April berekspansi dengan Indeks Pembelian Manajer (PMI) mencapai 57,3 persen.

Nilai tukar rupiah sendiri diperkirakan akan kembali melemah lantaran peluang kenaikan suku bunga AS makin terbuka lebar. Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, walaupun yield AS turun dari posisi 3 persen, namun suku bunga The Fed justru kemungkinan meningkat. “Ini karena data ekonomi AS yang semakin optimistis akhir-akhir ini,” jelas Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, meredanya ketegangan kondisi geopolitik di Semenanjung Korea juga turut memberikan sentimen positif terhadap dolar AS. Pada perdagangan hari ini, ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail menyatakan bahwa data inflasi Indonesia bulan April 2018 akan turut mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda. “Jika inflasi lebih rendah dari proyeksi, peluang Bank Indonesia menaikkan suku bunga kembali memudar,” tutur Ahmad.

Loading...