Jelang Hasil Rapat The Fed, Rupiah Tangguh Melaju ke Zona Hijau

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

Jakarta – Nilai tukar mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (19/12), dengan penguatan sebesar 66 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp 14.435 per . Sebelumnya, Selasa (18/12), kurs Garuda berakhir terapresiasi 79 poin atau 0,54 persen ke level Rp 14.501 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat tipis. Pada akhir perdagangan Selasa (18/12), indeks dolar AS naik tipis lantaran para investor masih tetap berhati-hati terhadap langkah kebijakan dalam menentukan acuannya selama pertemuan FOMC.

Dilansir Xinhua, saham telah mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga tahun 2018 ini. Akan tetapi para analis memperkirakan jika laju kenaikan suku bunga untuk tahun 2019 mendatang kemungkinan bakal melambat. Bahkan ada pula yang mengatakan jika tren kenaikan suku bunga selama 3 tahun belakangan mungkin akan berakhir usai pertemuan pada Rabu.

The Fed mulai menaikkan suku bunga acuannya dari mendekati nol hingga lebih dari 2 persen sejak Desember 2015 lalu. Kemudian secara bertahap menaikkan suku bunga pada kisaran antara 2,25 persen hingga 2,5 persen saat ini.

Di sisi lain Presiden AS menambah volatilitas pasar karena telah berkali-kali menegur The Fed atas langkah kenaikan suku bunga dan memaksa untuk menahan laju kenaikan suku bunga tahun ini. “Jangan biarkan pasar menjadi lebih tidak likuid daripada yang sudah ada. Berhenti dengan 50 B. Rasakan pasar, jangan hanya pergi dengan angka yang tidak berarti. Semoga beruntung!” demikian bunyi cuitan Trump di Twitter.

Rupiah sendiri berhasil menguat meski suku bunga The Fed diprediksi naik lagi lantaran pasar lebih menyoroti isi pernyataan Gubernur The Fed, Jerome Powell yang dovish karena kemungkinan perlambatan ekonomi global. Menurut Analis Global Kapital Investama Nizar Hilmy, selain karena faktor eksternal, rupiah dapat menguat lantaran adanya dukungan dari (BI) dan kebijakan pemerintah yang prudent. “Pelaksanaan kebijakan pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) berpengaruh dan efektif dalam menyokong penguatan rupiah,” beber Nizar, seperti dilansir Kontan.

Loading...