‘Jebakan Penghasilan Tinggi’ Intai Korea Selatan dan Taiwan

Jebakan Penghasilan Tinggi Korea Selatan dan Taiwan - asia.nikkei.com

TOKYO – dan saat ini merupakan dua di kawasan Asia Timur yang mulai meninggalkan level dengan pendapatan menengah menuju dengan pendapatan tinggi. Namun, mereka rentan menghadapi risiko ‘perangkap penghasilan tinggi’ mengingat masih belum stabilnya pekerjaan, terutama bagi golongan muda, yang mengakibatkan tingginya tingkat .

Menurut data , bruto (PDB) per kapita di atas 10.000 AS pada tahun 1994 di Korea Selatan dan di Taiwan pada tahun 1992. Angka-angka pendahuluan untuk tahun 2016 adalah 27.630 AS di Korea Selatan dan 22.040 AS untuk Taiwan. Sebagai perbandingan, angka PDB awal untuk Jepang adalah 37.300 AS.

Data tersebut menunjukkan bahwa kedua negara telah melewati fase sebagai negara kelas menengah menuju tinggi. Tetapi, baik Korea Selatan maupun Taiwan, sekarang menghadapi risiko baru potensial yang bisa disebut ‘perangkap berpenghasilan tinggi’. Biasanya, seperti orang melihat pendapatan mereka yang naik, mereka mulai mencari pendidikan yang lebih tinggi. Persentase lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi adalah sekitar 70 persen di Korea Selatan dan lebih dari 90 persen di Taiwan.

Masalahnya adalah, lulusan universitas secara alami mencari pekerjaan dengan upah yang tinggi yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka. Sayangnya, tidak begitu banyak lapangan pekerjaan yang tersedia. Pasalnya, cenderung mengalihkan produksi mereka di luar negeri karena tenaga kerja domestik yang menjadi lebih mahal, sekaligus mengurangi pekerjaan di negara ini.

Tingkat pengangguran di Korea Selatan berada di angka di 5,0 persen, namun melonjak 12,3 persen untuk usia 15 hingga 29 tahun. Seperti di Korea Selatan, anak-anak muda di Taiwan juga menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi. Tingkat pengangguran sekarang adalah 3,85 persen, namun angka untuk mereka yang berusia 20 hingga 24 tahun mencapai 12,57 persen.

Berbanding lurus dengan pendapatan yang meningkat, negara biasanya juga mengalami peningkatan penuaan populasi. Rata-rata seorang perempuan melahirkan di Korea Selatan hanya 1,17, sedangkan di Taiwan adalah 1,12, lebih rendah dari Jepang dengan angka 1,46. Sementara itu, penduduk usia kerja, mulai 15 hingga 64 tahun, di Taiwan mulai berkurang pada tahun 2016 dan angka tersebut diperkirakan lebih rendah di Korea Selatan.

Sebuah angkatan kerja yang lebih kecil pasti mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Tingkat pertumbuhan ekonomi di Negeri Ginseng pada tahun 2016 adalah 2,8 persen, sedangkan di Taiwan sebesar 1,5 persen. Tingkat pertumbuhan kedua negara diperkirakan akan tetap di atas 2 persen untuk sementara waktu. Namun, pertumbuhan lebih dari 3 persen tidak lagi menjadi target.

Jika suatu negara dengan penghasilan tinggi, yang terbebani oleh biaya tinggi, ingin mempertahankan pertumbuhan, salah satu solusi cepat adalah membawa pekerja asing sebagai tenaga kerja murah. Namun, di lain sisi, jika pekerja asing tumbuh terlalu banyak, maka warga domestik akan menganggap mereka sebagai ancaman.

Pada akhirnya, jalan yang pasti untuk mempertahankan pertumbuhan adalah mewujudkan peningkatan produksi yang didorong oleh inovasi. Faktor lain yang penting adalah Korea Selatan dan Taiwan tidak bisa lagi mengambil contoh negara-negara berpenghasilan tinggi. Sebaliknya, mereka harus membuat untuk diri mereka sendiri.

Loading...