Imbas Virus Corona, Jatuhnya Harga Minyak Makin Pukul Ekonomi Asia

Tambang Minyak - www.needpix.comTambang Minyak - www.needpix.com

RIYADH/BEIJING – Dalam keadaan normal, penurunan minyak mentah , hingga 30%, imbas runtuhnya aliansi 24 minyak utama, akan menjadi dorongan besar bagi negara-negara di yang bergantung pada . Sayangnya, ini bukan saat yang tepat, karena epidemi corona, yang kini telah berubah menjadi pandemi global, berpotensi mengganggu, bahkan menghancurkan.

“China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia dan importir minyak mentah terbesar, hampir tidak dalam posisi untuk mendapatkan keuntungan dari minyak murah ketika sebagian besar sektor manufaktur, aktivitas komersial, serta perjalanan domestik dan dilumpuhkan oleh karantina selama berminggu-minggu,” tutur Vandana Hari, pendiri Vanda Insights yang berbasis di Singapura, yang melacak pasar energi. “Permintaan minyak China telah merosot sekitar 2 juta barel per hari.”

Sementara itu, di Asia Tenggara, harga minyak yang rendah sebenarnya dapat memberikan bantuan marjinal bagi ekonomi-ekonomi ini. Namun, itu akan menjadi buruk karena adanya virus corona yang melemahkan. Negara-negara penghasil dan pengekspor minyak seperti Australia, , Malaysia, Brunei, dan Vietnam, akan menderita karena pendapatan yang lebih rendah, menipiskan pundi-pundi pemerintah, serta melukai perusahaan-perusahaan hulu minyak mereka.

“Ketika ekonomi Asia menerapkan pelonggaran kebijakan moneter radikal dan menggunakan langkah-langkah pemompaan lainnya untuk memerangi dampak coronavirus, kombinasi dengan minyak murah dapat memperburuk tekanan deflasi,” sambung Vandana. “Sementara itu, harga minyak yang lebih rendah tidak mungkin merangsang konsumsi publik ketika pertumbuhan ekonomi goyah.”

Bahaya jangka panjang lainnya dari harga minyak yang tertekan, dan yang tidak selalu mendapatkan perhatian yang layak, adalah risiko perusahaan minyak di seluruh dunia untuk semakin mengurangi pengeluaran eksplorasi minyak. Bahkan, lonjakan aliran minyak mentah dan gas alam dari AS, yang memberikan aliran pasokan baru yang penting bagi Asia, dapat mengering karena perusahaan sektor serpih dipaksa untuk mengurangi pengeluaran.

“Sebagai pusat permintaan minyak yang tumbuh cepat, Asia akan mengalami kerugian terbesar dalam satu atau dua dekade mendatang jika kapasitas produksi minyak dunia menyusut jauh lebih cepat daripada pertumbuhan sumber energi alternatif,” tambah Vandana. “Akhirnya, ketidakpastian besar membayangi pasar minyak tentang apakah Rusia dan Arab Saudi memang akan melakukan perang harga atau kembali ke meja perundingan.”

Arab Saudi sebelumnya telah memimpin anggota OPEC untuk memperdalam pengurangan kolektif mereka sebesar 1 juta barel per hari, dengan syarat bahwa Rusia dan sekutu non-OPEC lainnya memangkas hingga setengah juta hingga akhir tahun ini. Arab Saudi menganggap itu sebagai respons yang tepat terhadap anjloknya konsumsi minyak akibat coronavirus. Namun, Rusia menolaknya, mengutip kurangnya kejelasan seputar epidemi virus dan implikasi ekonominya.

“Jika harga minyak bertahan pada level saat ini atau lebih rendah untuk periode waktu tertentu, pembuat kebijakan di Asia perlu waspada terhadap kerusakan tambahan, upaya menuju dekarbonisasi dapat terlempar ke keadaan fluks yang membingungkan,” lanjut Vandana. “Situasi ini membutuhkan kepala yang dingin, respons yang terukur, dan menjaga tujuan jangka panjang tetap terlihat.”

Loading...