Jadi Hewan Peliharaan, Konsumsi Daging Anjing di China Justru Meningkat

Konsumsi Daging Anjing di China - berita360.comKonsumsi Daging Anjing di China - berita360.com

BEIJING – Anjing merupakan salah satu yang banyak dijadikan sebagai binatang oleh sebagian besar . Ironisnya, pada saat yang sama, Negeri Tirai Bambu juga banyak yang mengonsumsi daging anjing karena harga daging hewan tersebut yang relatif .

Sebelumnya, Partai Komunis telah melarang rakyat China untuk memiliki anjing pada tahun 1983 setelah Revolusi Kebudayaan. Namun, sejak Beijing mencabut larangan kepemilikan anjing pada tahun 2002, jumlah hewan tersebut tercatat telah mencapai 140.000 ekor, dan terus menjadi 1,2 juta ekor di tahun 2012 dan kembali naik 2 juta ekor pada tahun lalu.

“Tetapi, dengan hanya 50 sampai 60 persen anjing yang terdaftar di batas kota dan hampir semua yang ada di pinggiran kota tidak terdaftar, jumlahnya bisa mencapai antara empat hingga enam juta ekor di wilayah Beijing,” kata Mary Peng, CEO sebuah rumah sakit hewan, seperti dikutip dari Straits Times. “Beijing sendiri memiliki 21,5 juta penduduk.”

Sayangnya, menurut Profesor Guo Peng dari Universitas Shandong, yang meneliti etika hewan, meski banyak orang China yang menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan, di saat yang sama, warga Negeri Panda juga lebih banyak memakan daging hewan tersebut. “Pasalnya, daging anjing relatif lebih murah dibandingkan daging lainnya,” katanya.

“Kebanyakan anjing yang di China memiliki harga murah karena mereka telah dicuri dari pemiliknya,” sambung Prof. Guo. “Seekor anjing hidup dijual dengan harga rata-rata 5 yuan per 500 gram, sedangkan anjing yang telah mati dijual dengan harga 3 yuan sampai 4 yuan. Sebaliknya, harga daging babi sekitar 9 yuan sampai 10 yuan per 500 gram.”

Selain harga yang murah, orang China tidak memiliki keraguan dalam mengonsumsi daging anjing karena memelihara anjing secara tradisional terbatas pada kelas kaya. Orang biasa, jika mereka memelihara anjing, hanya digunakan sebagai penjaga untuk melindung rumah mereka. “Anjing yang sudah tua mungkin dibantai di beberapa daerah di China, terutama ketika kebutuhan sulit tercukupi,” imbuh Prof. Guo.

“Sekitar 10 juta anjing dibantai setiap tahun dan daging mereka kemudian dimakan, terutama di wilayah China timur laut, Provinsi Guangdong, dan wilayah Guangxi,” tambahnya. “Di daerah ini, daging anjing dijual atas nama tradisi minoritas, yaitu etnis Korea di China timur laut, atau tradisi lokal, di Guangdong dan Guangxi.”

Tetapi, yang menimbulkan kontroversi di China dan di luar negeri adalah Festival Yulin Lychee dan Dog Meat di Guangxi. Festival ini dimulai secara informal pada akhir 1990-an oleh pemilik restoran dan langsung menjadi populer sekaligus menjadi daya tarik wisata bagi kota. Tahun lalu, sebuah petisi yang menentang festival tersebut menarik jutaan tanda tangan di seluruh negeri, yang menunjukkan penentangan yang semakin besar terhadap konsumsi daging anjing di China.

Aktivis kesejahteraan hewan tidak mengharapkan orang Tionghoa berhenti makan daging anjing semalaman, namun sebaliknya, berharap akan terjadi perubahan sikap seperti yang dilakukan orang China untuk menjaga anjing sebagai hewan peliharaan. “Seiring generasi yang mulai tumbuh dengan hewan peliharaan di rumah tangga, kami berharap dapat melihat generasi muda mulai memilih untuk tidak melanjutkan praktik tersebut,” kata Peng.

Loading...