Jadi Alternatif Peternak Ayam, Harga Tepung Jagung Untuk Pakan Ternak Rp3 Ribuan per Kg

Harga, tepung, jagung, untuk, pakan, ternak, pakan ayam, peternak, ayam, bahan, baku, kenaikan, alternatif, bonggol, dijual, penggilingan, petani, alat, giling, mesin, membeli, biaya, angkut, produksi, impor, bungkil, kedelai, faktor, dagang, panen, lokal, global, per, kg, musimBahan baku tepung jagung (sumber: jurnalasia.com)

Harga baku utama ternak di Indonesia mulai mengalami kenaikan. Naiknya harga baku akan berpengaruh pada komoditas lainnya. Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Ternak (GPMT), Sudirman mengatakan, kenaikan harga bahan baku pakan terjadi pada dua bahan baku pakan ternak utama. Salah satu bahan baku yang mengalami kenaikan adalah jagung.

Jagung merupakan bahan baku utama dalam pakan ternak. Sudirman bilang, komposisi jagung dalam pakan ternak mencapai 50%. “Panen jagung sudah mulai habis jadi harganya merangkak naik,” ujar Sudirman.

Ia menambahkan, panen jagung di Jawa dan Sumatera sudah mulai habis. Beberapa daerah yang masih terdapat panen saat ini diungkapkan Sudirman berada di Makassar dan Sumbawa.

Tidak hanya jagung, harga bungkil kedelai pun mengalami kenaikan di tahun 2018. Asal tahu saja, komposisi bungkil kedelai dalam pakan ternak mencapai 25%. “Kalau harga bungkil kedelai naik Rp 2.400 per kg, maka harga pakan ternak bisa naik Rp 600 per kg,” jelas Sudirman.

Bungkil kedelai selama ini didapatkan melalui impor. Naiknya harga bungkil kedelai lokal dipengaruhi oleh harga bungkil kedelai .

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, adalah angka ramalan produksi kedelai di Argentina yang kurang baik. Sementara faktor kedua adalah terjadinya perang dagang antara dan Amerika Serikat (). Akibat perang dagang itu, China menaikkan bea masuk kedelai dari hingga 28%.

Dengan adanya kenaikan harga yang meresahkan peternak ayam, banyak dari mereka yang memberikan pakan ternak  alternatif, salah satunya adalah tepung jagung. Tepung jagung ini dijual dengan harga Rp3 ribuan per kg.

Untuk pakan ternak, seorang pemuda di Lamongan memanfaatkan bonggol jagung. “Bonggol jagung selama ini dibuang begitu saja oleh para petani, karena dianggap sampah yang tidak mempunyai manfaat dan nilai jual apapun. Kalaupun dimanfaatkan, dulu dipakai sebagai ganti kayu bakar untuk memasak,” kata Iswandi, dilansir Detik.com.

Bahkan menurut pemuda berusia 25 tahun itu, bonggol jagung (janggel dalam Bahasa Jawa) sudah tidak dilirik lagi oleh petani sebagai pengganti kayu bakar karena sudah ada gas elpiji. Ia kemudian terinspirasi ketika melihat para peternak kesulitan mencari pakan seperti saat ini. Mereka kesulitan mencari rumput hijau, sedangkan pada musim kemarau, petani biasanya beralih menanam jagung.

“Kalau daun jagung jelas dimanfaatkan untuk pakan ternak, tapi saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri, apa tidak mungkin memanfaatkan bonggol atau janggel ini sebagai pakan ternak,” jelas Iswandi

Iswandi lantas memanfaatkan limbah bonggol jagung yang melimpah di wilayah Lamongan selatan, seperti di Modo, dan tempat tinggalnya Kecamatan Bluluk dan sekitarnya. “Saya kemudian berusaha mencari bonggol jagung ini dengan mencoba menyusuri wilayah terdekat dengan rumah saya dan mengumpulkannya tanpa harus membeli dan hanya butuh mengeluarkan biaya angkut,” katanya.

Cara membuat pakan ternak alternatif dari bonggol jagung ini juga dikatakan Iswandi sangat mudah. Pertama, bonggol jagung dijemur sampai benar-benar kering untuk kemudian digiling menjadi tepung kering yang disebut concobu. ¬†“Concobu bonggol jagung mempunyai kandungan beragam jenis, semisal asam amino, karbohidrat, zat besi, protein dan lemak,” paparnya.

Setelah digiling, lanjut Iswandi, tepung bonggol jagung ini dicampur bahan lain seperti tebon jagung, sekam, dedak, rendeng, jerami atau kawul. Selain itu, ada tambahan formula lain dan rempah-rempah yang semuanya bisa didapatkan tanpa harus membeli. Namun Iswandi enggan membeberkan apa saja bahan tambahannya. “Penggerusan semua bahan dasar itu sudah dilakukan dengan menggunakan mesin yang dirangkai dengan alat giling hasil modifikasi sendiri yang multifungsi, bukan pabrikan,” aku Iswandi.

Dalam sehari, warga Dusun Juruk, Desa Primpen, Kecamatan Bluluk ini mengaku mampu memproduksi rata-rata 1 ton pakan alternatif siap saji dengan dibantu dua pekerja warga setempat. Pakan alternatif ini dijual seharga Rp1.000 per kilogram ke tangan peternak.

Loading...