Italia Sita 14 Ton Narkoba, Kiriman ISIS atau Rezim Assad?

Italia Sita 14 Ton Narkoba - www.dw.comItalia Sita 14 Ton Narkoba - www.dw.com

ROMA – Pemerintah baru-baru ini mengejutkan ketika mengumumkan bahwa Islamic State (dulu ISIS) berusaha mengirim amfetamin senilai 1 miliar euro ke Benua Eropa. Namun, sejumlah analis mengenai teror dan Suriah meragukan pernyataan tersebut. Pasalnya, IS telah kehilangan hampir semua wilayahnya sejak titik tertinggi pada tahun 2014 dan pasukannya jauh berkurang, sehingga mustahil memproduksi sebanyak itu.

Seperti dilansir dari Deutsche Welle, sebuah video dari Guardia di Finanza, sebuah unit kejahatan keuangan dan penyelundupan yang terkait dengan dan Keuangan, memperlihatkan para petugas menggunakan gergaji bundar untuk memotong tabung kertas industri yang dikirim dari Suriah. Ribuan tablet, yang diidentifikasi sebagai pil captagon, mengalir keluar dari lubang, mengisi lusinan kontainer besar.

Para pejabat mengatakan, secara total mereka menyita 84 juta tablet dengan berat sekitar 14 ton, yang hampir cukup untuk memasok seluruh Eropa, dengan nilai estimasi mereka adalah 1 miliar euro (1,13 miliar dolar AS). Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa tentang pernyataan yang menyertainya. Otoritas setempat mengklaim obat-obatan itu dikirim dari Suriah oleh kelompok Negara (IS).

Menurut Guardia di Finanza, tablet amfetamin semuanya bertuliskan simbol captagon, yang membedakan ‘obat jihad’ yang dibuat oleh IS. Obat itu mendapat julukan demikian setelah militan IS mengaku mengonsumsinya untuk tetap terjaga dan tidak merasa takut atau sakit selama pertempuran. “Diketahui, IS/Daesh mendanai kelompok teroris mereka sendiri, terutama melalui narkoba, yang diproduksi secara besar-besaran di Suriah,” ujar pernyataan tersebut.

Namun, para ahli seputar kelompok teror dan Suriah segera mengangkat keraguan mereka. Pasalnya, IS telah kehilangan hampir semua wilayahnya dan pasukannya sudah jauh berkurang. “Mengingat kemampuan kelompok saat ini yang terbatas pada tingkat manufaktur, (tampaknya) tidak mungkin mereka dapat membuat obat dalam jumlah yang sangat besar untuk saat ini,” kata Aymenn Jawad al-Tamimi, seorang ahli Suriah di Universitas Swansea.

Reporter perang dan rekan senior di Institut Jackson Universitas Yale untuk urusan global, Janine di Giovanni, mengemukakan keraguan yang sama. Menurutnya, tampaknya sangat tidak mungkin IS dapat menghasilkan persediaan obat yang begitu banyak mengingat fakta bahwa mereka sekarang ‘tinggal di gua-gua di Suriah dan Irak’. Keraguan lain untuk klaim Guardia di Finanza adalah pelabuhan tempat captagon telah dikirim. Latakia, sebuah kota pelabuhan di pantai Mediterania Suriah, tetap jauh dari cengkeraman IS karena selalu ada di tangan Presiden Bashar al-Assad.

Ketika DW mengajukan keraguan ini kepada pihak berwenang Italia, mereka menarik diri dari kepastian pernyataan mereka. “Saat ini, kami belum mengonfirmasi bahwa obat-obatan tersebut diproduksi oleh IS di Suriah, dan penyelidikan sedang berlangsung,” jelas Kolonel Giuseppe Furciniti, kepala Investigative Group on Organized Crime of the Guardia di Finanza.

Meski demikian, Kolonel Furciniti berpendapat bahwa IS diketahui memproduksi obat di Suriah. IS memang membuat captagon, baik untuk pasukan mereka sendiri atau untuk dijual di Timur Tengah untuk memperoleh keuntungan. Menurut World Drug Report PBB 2020, Timur Tengah dan Arab Saudi sejauh ini merupakan pasar pil terbesar, yang seringkali merupakan campuran amfetamin dan kafein.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota produksi utama pasti di ada Lebanon dan Suriah,” ujar Thomas Pietschmann, seorang peneliti senior di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan. “Apakah itu sebagian besar berasal dari IS atau salah satu dari banyak kelompok lain, memang bisa diperdebatkan. Ini bukan hanya IS, tetapi ada sejumlah kelompok yang telah membuatnya.”

Banyak dari apa yang telah dibuat baru-baru ini telah dikirim keluar dari Latakia. Pada bulan Februari kemarin misalnya, 5,6 ton tablet captagon ditemukan disembunyikan dalam pengiriman kabel listrik ke Dubai. Sebelumnya, pada Juni tahun lalu, pihak berwenang Yunani menghentikan pengiriman 33 juta pil yang disembunyikan di dalam palet kayu, yang dikirim dari Latakia.

Jumlah captagon yang dikirimkan, pelabuhan asal, dan metode yang digunakan untuk menyembunyikan pil menimbulkan kecurigaan yang mengarah pada rezim Presiden Assad. Menurut majalah mingguan Jerman, Der Spiegel, paman Assad, Samer Kamal Assad, menjalankan beberapa pabrik captagon yang menyamar sebagai perusahaan pengemasan di sebuah desa di selatan Latakia. Silinder kertas yang berisi pil itu diduga diproduksi di sebuah pabrik yang baru-baru ini didirikan di Aleppo. “Saat ini belum ada koneksi seperti itu,” klaim pihak berwenang Italia.

Loading...