Isu Perang Dagang Lanjutan Masih Menghantui, Rupiah Dibuka Keok ke Zona Merah

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta – Kurs mengawali pagi hari ini, Rabu (8/5), dengan pelemahan sebesar 9 poin atau 0,06 persen ke level Rp 14.289 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (7/5) Garuda berakhir terapresiasi 18 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp 14.280 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,11 persen menjadi 97,6282 lantaran para pelaku pasar saat ini tengah mempertimbangkan sejumlah terbaru Amerika Serikat.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan pada Selasa (7/5) bahwa jumlah lowongan pekerjaan di AS naik menjadi 7,5 juta pada Maret 2019. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa -perusahaan masih siap untuk merekrut karyawan baru di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi tak tumbuh secepat tahun sebelumnya.

Sedangkan perekrutan pegawai dan pegawai yang keluar sedikit mengalami perubahan, yakni masing-masing di angka 5,7 juta dan 5,4 juta dalam 1 bulan, demikian seperti dilansir Antara. Kemudian untuk pemutusan hubungan kerja (PHK), tingkat pegawai yang berhenti tidak berubah pada 2,3 persen serta tingkat pegawai yang keluar dan diberhentikan sedikit berubah pada level 1,1 persen.

Dari dalam negeri, Ekonom Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri memprediksi jika rupiah kemungkinan masih cenderung akan tertekan pada perdagangan hari ini, dengan sentimen yang didominasi dari eksternal. Misalnya saja kepastian terkait ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang hendak menaikkan tarif impor Jepang dari 10 persen menjadi 25 persen atau sekitar USD 200 miliar. “Kalau dilihat, sentimen masih didominasi faktor global, karena market concern pada pernyataan Trump,” ujar Reny, seperti dilansir Kontan.

Sedangkan data PDB kuartal I 2019 Indonesia yang mengalami sebesar 5,07 persen dianggap masih cukup baik dan memiliki dampak terhadap pasar uang. Walaupun Reny mengakui jika capaian itu sebenarnya masih ada di bawah harapan pasar. “Jadi, sentimennya sebenarnya mix, hanya saja dollar AS cenderung menguat di antara mata uang global lainnya. Ditambah lagi, disinyalir akan ada perang dagang lanjutan,” bebernya.

Loading...