Isu Perang Dagang Diprediksi Mereda, Rupiah Lanjutkan Rally di Pembukaan

Rupiah - www.moneysmart.idRupiah - www.moneysmart.id

Jakarta dibuka menguat 25 poin atau 0,18 persen ke level Rp 14.195 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (23/1). Kemarin, Selasa (22/1), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 14.220 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun tipis sebesar 0,03 persen menjadi 96,30 lantaran daya tarik dolar AS sebagai mata uang safe haven saat ini menurun di tengah tanda-tanda perlambatan kondisi perekonomian .

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (21/1) lalu merevisi prospek pertumbuhan global pada tahun 2019 menjadi 3,5 persen dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 3,7 persen. “Setelah dua tahun ekspansi yang solid, dunia tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan, dan risiko-risiko sedang meningkat,” ujar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde di Forum Dunia di Davos, Swiss, Senin (21/1), seperti dilansir Antara.

Pada hari yang sama, di yang terpisah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperingatkan bahwa kombinasi yang mengkhawatirkan dari tantangan pembangunan berpotensi merusak pertumbuhan global. Melemahnya dolar AS tahun 2019 ini merupakan pandangan konsensus di pasar mata uang. Pasalnya, bertaruh jika akan berhenti menaikkan suku bunga acuan dan ekonomi akan mengalami perlambatan usai dorongan fiskal tahun lalu.

Sementara itu, gerak rupiah di pasar spot masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede, rupiah berhasil menguat usai kemunculan optimisme bahwa perang dagang akan segera berakhir. Di sisi lain, pound sterling juga berhasil menguat usai tawaran baru soal Brexit dari Perdana Menteri Inggris Theresa May disambut positif. “Hasilnya, mata uang di Asia ikut menguat, termasuk rupiah,” beber Josua, seperti dilansir Kontan.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim pun menuturkan, pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh IMF dari 3,7 persen menjadi 3,5 persen telah menahan rupiah untuk menguat lebih lanjut. Gerak rupiah juga tertahan akibat data pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang hanya sebesar 6,6 persen.

Loading...