Isu Perang Dagang AS-Meksiko Tahan Laju Rupiah di Awal Perdagangan

Rupiah - www.seputarforex.comRupiah - www.seputarforex.com

Jakarta – Nilai tukar mengawali pagi hari ini, Kamis (30/8), dengan pelemahan sebesar 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 14.658 per AS. Sebelumnya, Rabu (29/8), Garuda berakhir terdepresiasi 33 poin atau 0,23 persen ke level Rp 14.650 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama diperdagangkan melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,11 persen menjadi 94,605 lantaran para investor masih mempertimbangkan pertumbuhan Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi AS direvisi ke tingkat tahunan sebesar 4,2 persen pada kuartal II 2018, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,1 persen. Menurut Departemen Perdagangan AS, pertumbuhan ekonomi AS yang menguat pada kuartal kedua tahun ini ditunjang oleh peningkatan dalam belanja konsumen serta investasi dan ekspor.

Pengeluaran konsumsi pribadi, yang mencapai lebih dari dua pertiga dari keseluruhan ekonomi juga dilaporkan tumbuh pada tingkat tahunan 3,8 persen pada kuartal II 2018, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebesar 4,0 persen, namun lebih tinggi dari pertumbuhan 0,5 persen pada kuartal I 2018. Sedangkan penjualan pending home AS (rumah yang pengurusannya belum selesai) anjlok untuk bulan ketujuh berturut-turut pada Juli 2018.

Pada Juli 2018 dilaporkan bahwa kontrak-kontrak yang ditandatangani untuk pembelian rumah melemah menjadi 0,7 persen dari bulan Juni, demikian seperti data dalam indeks penjualan pending home National Association of Realtors. Indeks lebih rendah 2,3 persen dari perolehan Juli 2017.

Dari dalam negeri, rupiah rupanya masih terdampak oleh isu perang dagang antara AS dan Meksiko. Menurut analis Global Kapital Investama Nizar Hilmi, perundingan AS dan Meksiko hanya membawa efek sementara terhadap mata uang , termasuk rupiah. “Perundingan AS dengan Meksiko baru sepakat dalam mengubah aturan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), itu baru rencana untuk renegosiasi kembali, Kanada pun belum menyatakan sepakat, perundingan tersebut baru mengarah ke perkembangan yang lebih saja,” kata Nizar, seperti dilansir Kontan.

“Perang dagang AS dengan China dan Eropa belum ada negosiasi lebih lanjut akibatnya bisa menimbulkan sentimen negatif bagi mata uang Asia dan rupiah,” sambung Nizar. Di samping itu, Indonesia selama Juli 2018 yang dilaporkan defisit USD 2,03 miliar juga turut menahan laju rupiah.

Loading...