Isu Berbahaya, Pisahkan Anti-Semit dari Kritik terhadap Israel

Isu anti-Semitisme - www.dw.comIsu anti-Semitisme - www.dw.com

Isu anti-Semitisme belakangan telah menjadi masalah yang serius. Itu telah digunakan sebagai tuduhan kepada siapa pun yang mengkritik pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Seperti diketahui, Israel belum berhenti untuk merebut wilayah Palestina, dan mengklaim Yerusalem sebagai ibukota negaranya. Meski demikian, perlu untuk memisahkan isu anti-Semit dari kritik terhadap Israel.

Dikutip dari DW, perdebatan tentang anti-Semitisme semakin membara di . Beberapa minggu yang lalu, setempat menunjuk seorang komandan anti-Semitisme . Dan, tentu saja, serangan baru-baru ini terhadap Yahudi yang mengenakan yarmulkes di depan umum telah menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan orang Yahudi di Jerman.

Tetapi, bagaimana orang bisa membedakan antara kritik yang dibenarkan terhadap kebijakan Israel dan anti-Semitisme? Menurut Duta Besar Israel untuk Jerman, Jeremy Issacharoff, tidak ada jawaban yang atau definisi yang jelas. Sementara, chairman of the New Israel Fund Deutschland, Ofer Waldman, menuturkan bahwa sebagai isu yang serius, anti-Semitisme juga sering dituduhkan kepada mereka yang mengkritik pendudukan Israel atas Palestina.

yang tampaknya objektif yang dirancang untuk menilai isi anti-Semit dari isu yang berkaitan dengan Israel dapat menggunakan hal yang terdengar ilmiah, seperti 3D, yang mencari demonization, standar ganda, dan delegitimization. Tetapi, mereka mencerminkan keinginan satu sisi dari mereka yang melakukan pencarian dengan keteraturan yang mencolok. “Saya tidak berpendapat bahwa setiap kritik terhadap Israel adalah anti-Semit. Pada akhirnya, kritik yang sah berusaha menggunakan yang sah untuk mengekspresikan dirinya secara konstruktif,” ujar Duta Besar Issacharoff.

Dengan demikian, isu tetap menjadi tujuan politik dan konteks keseluruhan ketika kritik tersebut dibuat. Namun, pertanyaan yang sama harus diajukan ketika tuduhan anti-Semitisme dilontarkan terhadap mereka yang mengkritik Israel. Ini telah menjadi ritual yang terlalu sering diulang. Seseorang yang mengkritik kebijakan Israel atau sebuah lembaga yang menjadi tuan rumah diskusi kritis tentang situasi di wilayah pendudukan, maka akan dituduh anti-Semit.

Tidak diragukan lagi, kritik yang tak tertahankan terhadap Israel dan kebijakannya sudah sering terlontar. Tetapi, ketika kritik sudah cukup beralasan, konfrontasi dengan metode 3D menunjukkan bahwa mereka yang ingin membantah kritik, tidak memiliki argumen yang kuat untuk melakukannya. Itulah yang membuat penggunaan anti-Semitisme sangat berbahaya. Di atas segalanya, ini mengirimkan pesan bahwa orang harus menghindari topik khusus untuk Israel, atau lebih baik lagi, untuk menjauhkan Israel secara umum.

Politisi seperti Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, dan pemerintah nasional konservatif yang berkuasa di Polandia dirangkul oleh pemerintah Israel dan dibebaskan dari tuduhan anti-Semitisme, hanya karena mereka menampilkan diri sebagai teman-teman Israel. Di sisi lain, kritik yang paling hati-hati kepada Israel segera dicap sebagai anti-Semit ketika disuarakan oleh warga , terutama di Jerman.

Tuduhan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk mempertanyakan kemampuan Muslim untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Eropa. Akibatnya, partai populis Alternative for Germany menggunakan tuduhan anti-Semitisme sebagai justifikasi untuk kebijakan rasis dan anti-Muslim mereka sendiri, hal-hal yang tampaknya lebih mengerikan.

“Sulit untuk mendefinisikan perbedaan antara kritik yang dibenarkan dan agitasi anti-Semit,” sambung Duta Besar Issacharoff. “Meskipun demikian, orang tidak boleh menghindari tugas melakukannya, atau kehilangan keberanian untuk membuat perbedaan semacam itu.”

Loading...