Mengklaim Wilayah Yerusalem Timur, Israel Yahudi Usir Warga Palestina

Sekumpulan Warga Palestina - www.middleeasteye.netSekumpulan Warga Palestina - www.middleeasteye.net

YERUSALEM – Dalam upaya untuk mengganti Palestina dengan pemukim Yahudi di Sheikh Jarrah, pengadilan telah memerintahkan setidaknya selusin untuk menyerahkan rumah mereka di Yerusalem Timur. Pemukim Yahudi mengklaim bahwa itu milik mereka. Di bawah , permukiman Israel sebenarnya dianggap ilegal dan dikecam secara luas.

Seperti diwartakan TRT World, pada bulan Oktober lalu, pengadilan distrik Israel memutuskan bahwa setidaknya 12 keluarga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur harus menyerahkan rumah mereka kepada pemukim Israel, serta membayar pengeluaran mereka. Pengadilan juga meminta sekitar 50 orang untuk dievakuasi pada 2 Mei 2021, dan sekitar 70 akan menghadapi penggusuran Agustus mendatang, demikian berita Palestina, WAFA, mengabarkan.

Setelah tinggal di rumah-rumah ini selama beberapa dekade, warga Palestina telah menolak keputusan tersebut ketika para pemukim dan Yahudi muncul untuk memaksa mereka keluar. Bagi mereka, keputusan tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan Israel yang dimulai dengan Nakba, ‘the Catastrophe’, pada tahun 1948, ketika ribuan warga Palestina terusir dari rumah mereka.

Menurut Jerusalem Post, rumah-rumah itu terletak di dalam kompleks yang dikenal sebagai ‘Makam Simeon yang Adil’, tempat seorang imam besar dimakamkan. Pengadilan menyatakan bahwa penduduk saat ini (Palestina) telah gagal membayar sewa yang diminta selama beberapa tahun dan tidak membantah ‘klaim orang Israel Yahudi atas properti’.

Pengadilan Israel memberi warga tambahan waktu dua hari hingga 4 Maret 2021 untuk mencapai kesepakatan, tetapi itu terbukti tidak mungkin. Pasukan Israel lantas menggerebek rumah-rumah di Sheikh Jarrah, dengan menyemprotkan gas air mata kepada warga di dalam rumah mereka. Sementara itu, pemukim Israel menyerang warga yang berdemonstrasi, mengakibatkan sepuluh orang Palestina terluka dan tiga orang dirawat di rumah sakit.

Tindakan keras penggusuran Israel didasarkan pada kebijakan yang ditetapkan parlemen Israel pada tahun 1970 silam. Setelah pengungsian massal tahun 1948, hanya 37 keluarga Palestina di 27 rumah yang ditempatkan di lingkungan itu oleh badan pengungsi PBB, UNHCR, di bawah kesepakatan dengan pemerintah Yordania. Pada saat itu, Yerusalem Timur sebenarnya berada di bawah mandat Yordania, tetapi Israel telah menduduki dan mencaplok daerah tersebut.

Keluarga Kurdi termasuk di antara mereka yang telah diminta untuk menyerahkan rumahnya kepada pemukim Yahudi dalam rencana Israel untuk mengganti penduduk Palestina dengan orang mereka. Keluarga tersebut telah kehilangan setengah dari properti mereka pada tahun 2009. “Berbagi rumah dengan ‘penghuni liar dengan aksen Brooklyn’, merupakan sesuatu yang mengerikan,” kata salah seorang warga bernama Mohamed.

“Mereka hanya duduk di rumah kami, menyiksa kami, melecehkan kami, melakukan segala yang mereka bisa untuk tidak hanya memaksa kami meninggalkan rumah, tetapi juga melecehkan tetangga kami untuk meninggalkan rumah mereka,” sambungnya. “Ini bukan hanya beberapa keluarga Palestina yang miskin, tetapi ratusan ribu warga Palestina di sekitar Yerusalem dan kota-kota tetangga yang menghadapi taring ganas dari sistem peradilan yang dirancang secara inheren untuk menggantikan mereka.”

Dalam surat yang dikirim pada hari Senin (3/5) kemarin, Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al Maliki, meminta Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk mengambil sikap yang jelas dan publik terhadap tindakan Israel di lingkungan Sheikh Jarrah. Sebelumnya, PBB sudah menyatakan keprihatinan terhadap setiap upaya untuk mengubah komposisi demografis daerah-daerah ini. Jewish Voice for Peace, sebuah organisasi HAM Israel, telah menyatakan dukungannya untuk keluarga Palestina.

Loading...