Dianggap Tidak Asli Yahudi, Israel Deportasi Black Hebrew Israelites

Komunitas Spiritual Black Hebrew Israelites - www.nytimes.comKomunitas Spiritual Black Hebrew Israelites - www.nytimes.com

TEL AVIV – dikabarkan akan mendeportasi lusinan orang Black Hebrew Israelites dengan izin tinggal di selatan tersebut. Pasalnya, meskipun telah bermukim di tersebut selama beberapa dekade, Black Hebrew Israelites atau Ibrani Hitam, yang kebanyakan adalah keturunan Afrika-Amerika, dianggap tidak asli Yahudi.

Dilansir dari TRT World, Black Hebrew Israelites adalah komunitas spiritual Afrika-Amerika yang mengidentifikasi dirinya sebagai keturunan dari Yahudi kuno dan memandang Israel sebagai tanah air leluhur mereka. Dengan sekitar 2.500 sampai 3.000 anggota, kebanyakan dari mereka tinggal di kota gurun selatan, Dimona.

Komunitas ini didirikan oleh Ben Carter, seorang pekerja baja di Chicago, yang menamai dirinya Ben Ammi Ben Israel setelah pindah ke Israel bersama dengan 30 pengikutnya pada tahun 1969. Mereka dapat menetap di negara tersebut karena Israeli Law of Return memberikan kewarganegaraan kepada orang Yahudi, yang secara historis sudah menetap di tanah .

Meski demikian, Israel tidak begitu yakin apa alasan para pendatang baru yang datang dengan visa turis, mengadopsi nama Ibrani, serta berpakaian dengan gaya Afrika Barat. Pada tahun 1973, anggota komunitas tersebut tidak diberi kewarganegaraan Israel karena pemerintah setempat menyimpulkan bahwa mereka bukan etnis Yahudi. Namun, orang-orang ini akhirnya diberi status tinggal sementara di Israel karena tekanan dari Kongres AS pada awal 1990-an.

“Sudah cukup lama kami memiliki sejumlah anggota masyarakat dengan tingkat status keimigrasian yang berbeda-beda, ada yang memiliki kewarganegaraan penuh, ada yang berstatus permanen, ada yang tinggal sementara, dan ada yang tidak berstatus sama sekali,” kata Pangeran Immanuel Ben-Yehuda, juru bicara Black Hebrew Israelites. “Kami telah bekerja selama bertahun-tahun dengan otoritas Israel untuk menyelesaikan status kami yang tidak memiliki tempat tinggal permanen.”

Pemerintah Israel sendiri mengatakan pihaknya memberikan status tempat tinggal kepada sekitar 1.200 orang dan mengklaim mereka yang lamarannya ditolak bukanlah anggota komunitas. Menurut keterangan Otoritas Kependudukan dan Imigrasi Israel, semua orang yang tidak termasuk dalam anggota komunitas dan tidak memenuhi kriteria, tinggal secara ilegal di Israel untuk waktu yang lama, dan akhirnya harus pergi sesuai hukum.

Persimpangan ras dan keyakinan Yahudi telah menjadi perdebatan sengit dalam masyarakat Israel karena pertanyaan apakah etnis atau keyakinan membuat seseorang menjadi Yahudi masih diperdebatkan. Kelompok sayap kanan dan ultra-Ortodoks telah lama menekan pemerintah untuk mengusir migran Afrika guna melindungi identitas Yahudi Israel. Bertepatan dengan kebijakan anti-migran Donald Trump, pemerintah Benjamin Netanyahu semakin memusuhi migran Afrika.

Bahkan, ada pembicaraan tentang ‘ancaman Afrika’, istilah yang digunakan oleh politisi Israel ketika berbicara tentang orang Afrika, terlepas dari apakah mereka Yahudi atau bukan. Hingga akhir 2018, sekitar 40 ribu migran Afrika tinggal di Israel, menurut Otoritas Imigrasi Israel, cuma 0,5 persen dari total Israel. Amnesty International dan Human Rights Watch menganggap sebagian besar migran Afrika sebagai pencari suaka dan pengungsi yang sah.

Namun, Netanyahu menyebut migran Afrika sebagai ‘penyusup’, yang memiliki pilihan untuk meninggalkan negara dan mengambil uang mereka atau menghabiskan sisa hidup mereka di penjara Israel. Ribuan orang Afrika akhirnya terpaksa meninggalkan Israel menuju Uganda dan Rwanda, terlepas dari negara asal mereka, jika tidak ingin berakhir di dinding jeruji.

Loading...