Iran Serang Balik AS, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk mengatrol posisi ke area hijau pada Rabu (8/1) sore, ketika serangan balasan terhadap pangkalan militer AS memukul sebagian besar . Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda berakhir melemah 22 poin atau 0,16% ke level Rp13.900 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.934 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.919 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,42% menghampiri won Korea Selatan.

Dikutip dari Bloomberg, mata uang Benua Kuning harus bergerak lebih rendah pada hari ini ketika kekhawatiran mengenai konflik antara AS dan Iran semakin tinggi setelah Teheran menembakkan rudal ke pangkalan udara AS di Irak. Menurut pihak Iran, pihaknya tidak mengejar perang, tetapi sebagai peringatan adanya aksi balasan terkait serangan AS yang sudah menewaskan salah seorang jenderal mereka.

Ketika mata uang Asia terkoreksi, indeks dolar AS juga ikutan melemah meskipun survei terbaru menunjukkan bahwa aktivitas non-manufaktur di AS menunjukkan kenaikan sepanjang Desember 2019. Mata uang Paman Sam terpantau turun 0,054 poin atau 0,06% ke level 96,951 pada pukul 12.04 WIB, berbalik dari penguatan yang dibukukan pada transaksi sebelumnya.

Institute for Supply Management, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa indeks aktivitas non-manufaktur naik menjadi 55,0 sepanjang Desember 2019, dari 53,9 pada bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi di sektor jasa, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas A.S. itu muncul setelah survei ISM pekan lalu menunjukkan aktivitas pabrik AS turun pada Desember ke level terendah sejak Juni 2009.

“Angka non-manufaktur ISM sedikit di atas ekspektasi. Itu akan mendukung ide konsumen dan siklus yang mendapat manfaat dari konsumen, bahkan di pasar yang turun,” papar kepala strategi investasi di State Street Advisors di Boston, Michael Arone. “Bahkan, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, saham siklus telah mengungguli saham defensif, mencerminkan pandangan bahwa ekonomi AS tetap kuat meskipun terjadi flare-up di Timur Tengah.”

Loading...