Irak Tolak Anak dari Wanita Yazidi yang Diperkosa Militan ISIS

Anak dari Wanita Yazidi - internasional.kompas.comAnak dari Wanita Yazidi - internasional.kompas.com

BAGHDAD – Pekan lalu, Dewan Spiritual Tertinggi Yazidi membatalkan keputusan yang menyatakan bahwa semua yang selamat dari kejahatan Islamic State (IS atau ISIS) akan diterima kembali ketika pulang. Kini, meski perempuan yang dulu dijadikan budak seks oleh ISIS akan diterima kembali, namun tidak untuk anak-anak mereka, yang lahir akibat diperkosa para militan ISIS.

Seperti diberitakan Deutsche Welle, setelah para di dewan sebelumnya menghindari hal-hal sensitif dalam pernyataan pertama mereka, mereka lalu mengklarifikasi bahwa aturan tersebut ‘tidak berarti anak-anak yang lahir akibat hasil dari pemerkosaan’ dapat kembali. Hal tersebut lantas mendapatkan pertentangan dari berbagai pihak.

“Keputusan pertama dan terakhir adalah milik para penyintas dan mereka dan tidak ada yang memiliki hak untuk membuat keputusan yang menjadi milik mereka,” tandas Nadia Murad, warga Yazidi yang selamat. “Jika mereka memutuskan untuk kembali dengan anak-anak mereka, kita sebagai masyarakat harus menghormati keputusan mereka, menyambut dan menawarkan mereka kemungkinan bantuan.”

Aktivis Yazidi dan mantan anggota parlemen Irak, Amina Said, setuju bahwa keluarga-lah yang harus menentukan nasib anak-anak mereka. Ia menuturkan, sebagai seorang ibu, dirinya merasakan apa yang dirasakan para wanita tersebut. “Aku bisa mengerti reaksi masyarakat karena aku juga tinggal di komunitas, tetapi mereka adalah korban. Jika kita menutup semua pintu untuk mereka, mereka akan dihukum dua kali,” katanya.

Perlawanan terhadap pernyataan asli dewan yang menerima semua korban muncul ketika masyarakat terus bergulat dengan trauma genosida pada tahun 2014 lalu. Masyarakat secara tradisional juga tidak mengakui pernikahan dan konsepsi antara Yazidi dan non-Yazidi, atau menerima konversi agama. masyarakat mengatakan, pembatasan membantu kecil melindungi integritas identitas mereka dan mempertahankan kelangsungan hidup dalam menghadapi genosida.

Beberapa tokoh Yazidi berpendapat bahwa relokasi adalah satu-satunya cara bagi anak-anak dan masyarakat untuk menghindari stigma, dan bahwa melindungi komunitas yang sudah rapuh, di atas kepentingan masing-masing anak dan ibu, harus menjadi prioritas. Menurut Ahmed Burjus, wakil direktur kelompok pendukung Yazidi Yazda, salah satu aspek yang paling menyakitkan bagi masyarakat adalah berdamai dengan anak-anak yang ayahnya melakukan genosida di sebuah komunitas yang dulunya berjumlah 500.000 orang.

“Saya sendiri khawatir apabila anak-anak ini nantinya akan dipilih untuk balas dendam oleh orang lain yang sudah menderita di bawah IS,” kata Burjus. “Ia nantinya akan menjadi sasaran stigma seumur hidup dan akan mengalami kesulitan mendaftar sebagai Yazidi di bawah hukum Irak karena ayah mereka tidak dikenal, tetapi dianggap Muslim.”

Undang-undang kartu identitas nasional Irak, yang kontroversial, menentukan seorang anak harus terdaftar sebagai Muslim jika salah satu dari orang tuanya adalah Muslim. Meskipun rancangan undang-undang saat ini berupaya untuk memperbaiki beberapa aspek dari penderitaan Yazidi, termasuk hak-hak korban perempuan, namun itu tidak mengandung pengecualian untuk anak-anak yang lahir dari perkosaan.

Banyak wanita Yazidi yang selamat telah pergi ke Jerman, Eropa, dan Australia, yang otomatis memecah-mecah identitas Yazidi yang rapuh, tetapi ibu-ibu lain yang diculik oleh IS telah menemukan cara untuk secara diam-diam kembali ke dalam komunitas mereka sebelumnya. Beberapa menyembunyikan kehamilan dan memberikan bayi mereka kepada anggota keluarga, sedangkan yang lain mengaku telah bertemu pria Yazidi saat dipenjara.

“Sebagian besar wanita mungkin hanya akan menyerahkan anak-anak dan bayi mereka dan kembali ke komunitas atau pergi ke negara lain,” ujar Zeynep Kaya, seorang di London School of Economics Middle East Centre. “Mereka ingin kembali ke komunitas tetapi mereka harus menyerahkan anak-anak mereka. Ini pada dasarnya adalah penolakan dan pengucilan, melebihi apa yang telah mereka derita.”

Loading...