Investor Masih Cerna Pidato Trump, Rupiah Terkoreksi di Pembukaan

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta dibuka melemah 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 13.930 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (7/2). Kemarin, Rabu (6/2), Garuda berakhir terapresiasi sebesar 42 poin atau 0,31 persen ke level Rp 13.920 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,35 persen menjadi 96,3977 lantaran para pelaku masih mencerna pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut para analis, seruan Trump yang berulang kali menyatakan untuk belanja bisa mendorong pertumbuhan . Pidato kenegaraan Trump di Capitol Hill pada Selasa (5/2) malam membahas berbagai topik dan prioritas pemerintahannya pada tahun mendatang, termasuk sektor imigrasi, perdagangan dan , , perawatan kesehatan, dan keamanan nasional.

Trump juga menyerukan soal persatuan dan bipartisanship, mengingat kongres yang terpecah usai 2 tahun pertarungan partisan yang pahit dan polarisasi yang meningkat, demikian seperti dilansir dari Xinhua melalui Antara.

Di sisi lain, mata uang Garuda pada perdagangan sebelumnya berhasil menguat lantaran memperoleh banyak sentimen positif, terutama sehubungan dengan data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 mencapai angka 5,17 persen. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 sebesar 5,07 persen.

Terlebih karena saat ini Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat lebih memutuskan untuk menahan laju kenaikan suku bunga acuannya. “Rupiah dibantu kebijakan moneter The Fed,” kata Dini Nurhadi Yasyi, Analis Monex Investindo Futures, seperti dilansir Kontan.

Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian memprediksi jika penguatan rupiah masih berpotensi terulang dalam jangka pendek. Tetapi penguatan rupiah menurutnya bersifat terbatas lantaran akan ada perbaikan neraca berjalan. “Diprediksi dalam jangka waktu pendek rupiah masih bisa menguat. Penguatan rupiah yang berlebihan akan membuat sentimen perbaikan neraca berjalan turun,” jelas Fakhrul.

Loading...