Investor Jenuh dengan Dolar, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - www.jayabaya.ac.idRupiah - www.jayabaya.ac.id

JAKARTA – Meskipun bergulir dalam kisaran yang relatif sempit, masih mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Selasa (6/4) sore ketika dinilai sudah mulai jenuh dengan penguatan yang dialami . Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.505 per dolar AS.

Menurut analis uang PT Bank Mandiri Tbk., Rully Arya Wisnubroto, tekanan terhadap rupiah pada hari ini mulai berkurang. Hal tersebut sejalan dengan pergerakan dolar AS yang melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya. “(Dolar AS) sudah sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, sehingga mulai jenuh,” terang Rully, seperti dikutip dari Katadata.

Sementara itu, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan bahwa sentimen positif sebenarnya datang dari dalam negeri, yakni optimisme terhadap perekonomian yang tahun ini diprediksi akan tumbuh membaik. Hal tersebut sejalan dengan penambahan kasus baru COVID-19 yang cenderung melandai meskipun kuartal pertama 2021 masih akan mengalami kontraksi.

“Pelaksanaan pemulihan ekonomi nasional dan implementasi dari berbagai regulasi terkait dengan pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja mulai membuahkan hasil,” tutur Ibrahim. “Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro turut menjaga momentum pemulihan ekonomi sehingga kepercayaan masyarakat kembali meningkat.”

Dari pasar global, indeks dolar AS berjuang bangkit dari level terendah hampir dua minggu versus sekeranjang rekan-rekannya pada hari Selasa, ketika imbal hasil Treasury turun dari level puncak baru-baru ini meskipun ada tanda-tanda pemulihan ekonomi AS yang kuat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,076 poin atau 0,08% ke level 92,671 pada pukul 11.13 WIB.

Sebelumnya, greenback telah meningkat kuat tahun ini, bersama dengan imbal hasil Treasury, karena investor bertaruh pada rebound ekonomi di AS yang lebih cepat daripada negara maju lainnya, dipicu stimulus besar-besaran dan tindakan vaksinasi yang agresif. Namun, penurunan dolar AS minggu ini bahkan setelah data nonfarm payrolls yang jauh lebih kuat dari perkiraan, menunjukkan bahwa sebagian besar prospek bullish diperkirakan untuk saat ini.

“Sementara ekonomi AS memang terlihat luar biasa, normalisasi COVID-19 dari waktu ke waktu berarti seluruh akan berkumpul,” tulis kepala global strategi valuta asing di TD Securities, Mark McCormick, dalam catatan kliennya, seperti dilansir dari Reuters. “Level dolar AS sekarang telah melampaui kenaikan di ekspektasi non-AS, yang berarti ada ruang untuk jeda.”

Loading...