Investor Galau, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – harus tertunduk lesu pada Kamis (3/11) sore ketika galau memburu aset berisiko atau tidak di tengah kabar bahwa vaksin telah memperoleh restu digunakan pada pekan depan. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.140 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.177 per dolar AS, terdepresiasi 13 poin atau 0,09% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.164 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,27% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,07% menghampiri rupiah.

Dikutip dari CNBC Indonesia, pelaku gamang apakah membeli aset berisiko atau tidak, di tengah kabar mengenai vaksin virus corona buatan Pfizer-BioNTech yang telah diizinkan dipakai di Inggris pada pekan depan. Inggris menjadi negara pertama yang memberikan izin penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech, dan kemungkinan segera disusul AS dan Uni Eropa.

Sayangnya, pemberian izin yang begitu cepat mengundang kritik. Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency) menyatakan pihaknya memerlukan waktu lebih lama untuk melakukan kajian sebelum memberikan restu. Meski begitu, Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency Inggris menyatakan bahwa mereka sudah menerapkan standar sesuai dengan ketentuan internasional.

Dari pasar global, dolar AS harus berkubang di dekat level terendah 2,5 tahun terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Kamis, karena investor bertaruh bahwa lebih banyak stimulus dari Washington dan dimulainya vaksinasi COVID-19 yang diharapkan akan mendukung aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,150 poin atau 0,16% ke level 90,968 pada pukul 14.55 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, meskipun Partai Republik dan Demokrat di Kongres AS tetap tidak dapat mencapai kesepakatan tentang bantuan baru untuk ekonomi AS yang dilanda pandemi, ada tanda-tanda awal bahwa proposal bipartisan senilai 908 miliar dolar AS dapat gol. Investor mengharapkan anggota parlemen untuk mencapai kesepakatan untuk meloloskan anggaran 1,4 triliun dolar AS atau berisiko ditutupnya pemerintah.

“Secara keseluruhan, tim ekonomi AS yang baru di bawah Presiden Joe Biden akan bersikap dovish, jika tidak secara langsung mengerahkan dolar AS yang lebih lemah,” kata kepala strategi di Sumitomo Mitsui Bank, Daisuke Uno. “Sementara, target euro berikutnya harus berada di level 1,2555 terhadap greenback. Jika ECB (Bank Sentral Eropa) melonggarkan kebijakannya, saya yakin euro akan menguat.”

Loading...