Investor Eropa Mulai Lirik Ekuitas Swasta Asia Tenggara

Bendera negara-negara ASEAN (sumber: brookings.edu)Bendera negara-negara ASEAN (sumber: brookings.edu)

JAKARTA – tampaknya membuat terobosan yang berarti ke ranah ekuitas swasta di , yang sejauh ini menjadi lahan pijakan bagi lokal dan AS. Di Indonesia, sebuah ekuitas swasta telah didirikan, yang bertujuan untuk menghubungkan uang Benua Biru dengan ekuitas swasta dalam negeri yang terus berkembang.

Dilansir dari Nikkei, setelah diluncurkan pada bulan Agustus kemarin, Panta Capital mengatakan akan melakukan sebesar 30 juta euro di Indonesia selama tahun depan. Mereka sudah mengumumkan 500.000 euro di startup pupuk, Rembuyung. Meski 30 juta euro mungkin tampak kecil, Panta menawarkan perusahaan Indonesia sesuatu yang baru, yakni Eropa.

Selama ini, walaupun Asia Tenggara muncul sebagai kawasan dengan pertumbuhan tinggi, aktivitas investor Eropa di wilayah tersebut tetap lambat. Dari semua investor ekuitas swasta dan ventura yang telah berinvestasi di pengelola dana dan dilacak oleh Preqin per September 2020, 56% berasal dari Amerika Utara, 21% dari Asia, dan 18% dari Eropa. Laporan lain data Inggris menunjukkan hanya 127 investor institusional di Eropa yang aktif dalam ekuitas swasta dan modal ventura , dibandingkan dengan 322 dari AS.

“Sebagian besar investor yang saya kenal, mereka tidak memiliki koneksi untuk berinvestasi di (private equity) Indonesia,” kata Daniel Tjoa, pendiri Panta Capital. “Itu tidak dipromosikan di Eropa. Saya pikir mereka agak takut pada (Asia) karena sangat berbeda (dari) Eropa. Bagi mereka, potensi risiko dan ketakutannya sangat tinggi.”

Ilustrasi: aktivitas pebisnis
Ilustrasi: aktivitas pebisnis

Menurut Ee Fai Kam, kepala operasi Asia di Preqin, kurangnya investor Eropa di ekuitas swasta Asia Tenggara mungkin terkait dengan sejarah . Karena ekuitas swasta dan modal ventura lahir di AS dan telah ada lebih lama, mereka mungkin ‘lebih nyaman’ dengan melakukan investasi melalui struktur tersebut.

“Mungkin ada faktor lain. Mitra terbatas AS memang memiliki daya tembak yang jauh lebih besar, dan itu berarti mereka akan dapat mengalokasikan dana di lebih banyak wilayah,” katanya. “ASEAN, meskipun berada di puncak tumpukan pasar negara berkembang, namun tidak berada di puncak tumpukan bagi investor di seluruh dunia. Puncak tumpukan bagi investor di seluruh dunia tetaplah seperti AS dan Eropa Barat.”

Meski demikian, ini mungkin dapat berubah. Dipaparkan Amit Anand, managing partner Jungle Ventures, perusahaan modal ventura yang berbasis Singapura, pihaknya pada 2015 dan 2016 mengumpulkan modal kurang dari 2% dari Eropa. Namun, pada tahun 2019, angkanya jauh meningkat mendekati 35%.

“Ada perubahan dramatis pada empat atau lima tahun terakhir. Ini adalah kombinasi dari beberapa hal” tutur Anand. “Tentu saja, Eropa sedikit lebih lambat untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan Asia, tetapi mereka akhirnya mulai menyadari bahwa itu mungkin satu-satunya wilayah yang bisa mendapatkan pertumbuhan 5-6% sebelum COVID-19. Tidak ada tempat yang lebih baik.”

Aktivitas di pasar tradisional
Aktivitas di pasar tradisional

Sementara minat meningkat, mungkin perlu beberapa saat bagi investor Eropa untuk sepenuhnya merangkul Asia Tenggara. Anton Wibowo, CEO dari Trendlines Agrifood Innovation Center, mengatakan, bahkan ketika investor Eropa tertarik pada Asia, pasar pertama yang mereka pikirkan adalah . “Mereka akan mengajukan pertanyaan tentang apa yang kami ketahui tentang , bagaimana kami akan membawa perusahaan portofolio kami ke ,” paparnya.  

Dave Richards, salah satu pendiri dan mitra pengelola di Capria Ventures yang berbasis di AS, menyebutkan hambatan lain. Dikatakannya, masih ada gesekan (ketika berinvestasi) di Asia Tenggara, karena banyak negara dan banyak peraturan. Jika orang Eropa akrab dengan investasi lintas batas tanpa gesekan berkat Uni Eropa, Asia Tenggara tidak memiliki tingkat regulasi yang sama, bahkan dengan inisiatif seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“ASEAN membantu dalam beberapa hal, namun masih banyak yang harus dilakukan untuk memudahkan perusahaan yang telah mengembangkan satu hal di satu negara untuk masuk ke negara lain di kawasan itu,” jelas Richards. “Pacific Alliance, misalnya. Pengelompokan Meksiko, Kolombia, Chile, dan Peru telah menciptakan pasar yang menarik dan mengurangi hambatan, sehingga Anda dapat memiliki perusahaan di mana pun untuk berkembang di seluruh kawasan.”

Terlepas dari semua tantangan yang dihadirkannya, pasar ekuitas swasta Asia Tenggara akan semakin menarik investor Eropa. Anand yakin, Eropa akan menjadi salah satu investor terbesar di Asia Tenggara daripada AS. Pasalnya, investor AS cukup terkumpul di China, jauh lebih banyak daripada Eropa. “Dalam beberapa hal, saya merasa ini adalah kesempatan bagi Eropa untuk memastikan bahwa kawasan besar berikutnya tidak didominasi oleh AS,” tutupnya.

Loading...